event

MUSYAWARAH TAHUNAN JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG ANGKATAN 2018

MALIKA FC

TIM UTAMA FUTSAL SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG "MALIKA FC"

event

pacitan

SAVE PACITAN

kegiatan bakti sosial bersama LTNU di Pacitan, dengan agenda trauma hearing

Sosiologi Agama adalah salah satu program studi di lingkungan IAIN Tulungagung.yang bernaung di bawah Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD). SALAM SATU WARNA

Wednesday, November 7, 2018

Pecundang Ilmu

                 
                          Pecundang Ilmu

By: Natasya Pazha Denanda

Memangnya kau ini siapa?
Pemilik raga dari pelosok yang selalu berlagak sok
Pemilik jiwa bengkok tanpa ada sisa ilmu yang kau stok
Memang, kegiatan kau mulai dari ayam berkokok
Memang, helaian kertas dan pena kau genggem hingga bengkok
Namun, kau gemar sekali berkata nanti, nanti, dan nanti
Kau hanya kerangka reyot, tanpa ada guna sama sekali
Segala upaya hanya sekadar penggugur kewajiban
Kau kata, agar tidak segera beranak pinak misalnya

Dahulu, kala fajar menampakkan diri, kau saut handuk lalu berlari
Dahulu, kala kilauan mentari yang membakar hari, dengan giat kau mencoba lagi dan lagi
Dahulu, kala semburat langit yang berganti, kau cambuk otak dengan percaya diri
Namun saat gagal itu menghujam, kau hanya diam
Melamun sendu berwajah sayu





Spermamu adalah sperma pejuang
DNAmu adalah DNA pemenang
Namun, semangatmu adalah semangat rongsokan
Kau ucap dengan lantang citamu dahulu
Kau bisikkan dengan lirih sekarang apa yang kau mau

Ayo pemuda!
Putar lagi otakmu, pacu lagi nyalimu
Walau hujan tidak datang kala kau mengharapkan
Meski matahari kerap membakar tiap kau giat berjalan
Semangatmu tidak akan menghitam
Gertak hatimu, “Diri ini bukan pecundang, aku layak menang!.”

Menyerahlah, menyerahlah untuk diam dan pasrah
Bergeraklah, untuk terus maju dan melangkah
Olah prosesmu
Rebus kembali anganmu
Bahan bakarmu belum saatnya habis
Semangatmu belum waktunya menipis
Wujudkan dengan nyata pemuda yang muda
Bukan pemuda dengan semangat yang renta

Sepucuk Harapan


Cipt : KACAMATA SENJA

Beribu sajak telahku tumpahkan
Beribu usaha telahku kerahkan
Beribu penghinaan ku dapatkan
Beribu goresan luka ku rasakan
Burung merpati putih
Tolong sampaikanlah sepucuk
Harapan yang ku inginkan
Untukmu negeriku ku bangga

SAHABAT


Cipt : KACAMATA SENJA
Sahabat…
Sebuah kata penuh makna
Kata yang slalu menemani
Gelap terangnya bumi diri
Sahabat…
Tangisku kau dengar
Senangku kau riangkan
Susahku kau mudahkan
Bahkan hidupkupun kau perhatikan
Walau kau berjalan di atas duri
Kau tak pedulikan kesakitan demi aku
Wahai sahabatku cukup sekian kali
Wahai diriku apa kau tak mau
Raihlah tangan untuknya jua
Agar dunia mengerti sakitnya
Duri-duri bumi diri di jalannya
Tangisnya ku rasakan jua
Ku hapuskan deritanya
Ku peluk ia demi dunia kita
Sahabatku cukup sekian kali
Biarkan aku jua merasakan
Pahit manis kehidupan mu
Ego yang terpenuhi cinta
Wahai sahabatku selamanya

PERI KECIL NEGERI MENANGIS LAGI

Cipt : KACAMATA SENJA

Peri kecil negeri menangis lagi
Keindahan yang dulu sangat indah
Kini jadi tumpukan sisa-sisa
Kenangan demi kenangan haram teringatkan
Peri kecil negeri menangis lagi
Sadarkah kita di uji oleh Tuhan
Sadarkah Tuhan kita cemburu
Dengan kesenangan kita melupakan-Nya
Peri kecil negeri menangis lagi
Puing-puing kokoh mencium tanah
Bercampuran dengan air mata
Insan-insan menjerit karna luka
Isak tangis sang insan tanpa reda
Tangan yang tergenggam sirna
Senyum manis berubah jadi tangis
Kebahagiaan yang renggut alam kita

Harapan






 Cipt : KACAMATA SENJA

Perasaan yang memudar nan hilang
Entah dari mana datangnya si pemudar
Ku bertanya pada bumi, langit, air, bahkan angin
Mereka tak menjawabnya dengan jelas
Kehancuran….
Hey dimana sisi keadilanmu itu
Duhai sejatimu kemana wahai diriku
Semangatmu hilang tanpa arah kemana
Air menetes bukan berarti kesedihan
Ataupun berarti sebuah kebahagiaan
Bagai kuda lepas tanpa pengemudi
Yang bebas nan tak tahu arah
Hingga ia temukan tempatnya
Tempat bagai bunga mekar
Hijau daun yang segar
Serta mentari menghangatkan kehidupan

Tuesday, November 6, 2018

Legenda Maibit by Naimatul Huda

Di suatu masa di desa maibit hiduplah seorang janda yang bernama Sri Penganti. Di perkirakan mereka hidup pada masa abad ke 14 masehi. Mereka tinggal di dekat sendang (perairan terbuka/semacam kolam kecil).
Sri penganti merupakan seorang ratu yang mengalami pelarian sampai ke maibit pada masa kerajaan Kediri, ( masa ken arok) pemaparan dari warga sendang maibit sukri. Dalam pelarianya sri penganti tidak langsung menetap ke desa maibit tetapi dia terlebih dulu singgah di desa-desa yang pernah di laluinya meliputi desa perungahan, ds. Mayang, desa sendang ngedangkreng( ds pengok). Setelah itu ia menetap didesa maibit dan angakat sebagai anak asuh kang bibit yang keseharianya sebagai penjual warung. Sri penganti memiliki saudara bernama joko grenteng.
Keindahan dan kecantikan janda itu sangatlah terkenal, banyak pemuda yang mengagumi kecantikannya, salah satunya Dalang Budoyo (dari desa maner).
Suatu ketika saat Sri Penganti atau biasa di sebut Lanjar Maibit (lanjar yang artinya semasa dia menikah belum pernah melakukan hubungan suami istri) sedang mandi di sendang tiba tiba Dalang Budoyo datang karena dia sangat mengagumi kecantikan Lanjar Maibit dia melihat Lanjar Maibit sedang mandi lalu dia naik ke atas pohon yang berada tak jauh dari tempat pemandian untuk memperhatikan Lanjar Maibit mandi dari atas pohon.
Tak sengaja lanjar maibit melihat bayangan di air yaitu bayangan Dalang Budoyo yang sedang memperhatikannya mandi  dari atas pohon. Saat melihat bayangan itu seketika Lanjar Maibit memakai selendangnya atau baju dan pergi meninggalkan tempat pemandiaanya. Ternyata cincin lanjar tertinggal di batu, Dalang Budoyo melihat cincin tersebut dan mengambilnya walaupun dia tidak bisa memiliki hati lanjar maibit tapi dia cukup senang mendapatkan cincin dari wanita yang sangatdi cintainya.
Selain Dalang Budoyo ada Begendung Kuwon (dari desa Pekuwon), Minak Jepolo (dari desa Sawahan/Logawe) dan masih banyak pemuda yang mengagumi Lanjar Maibit dan ingin menikahinya tapi mereka semua tidak ada yang bisa meluluhkan hati Lanjar Maibit.
Suatu ketika ada pemuda tampan yang bernama Minak Anggrang(dari padangan) putra Bupati Padangan sedang berburu burung di dekat sendang dia bertemu Lanjar Maibit dan dia terpesona oleh kecantikan sang Lanjar Maibit pada saat itu juga dia lansung jatuh cinta pada Lanjar. Ternyata Lanjar pun juga menyukai Minak Anggrang dan mereka pun menikah.

Karna minak angrang adalah seorang keturunan putra bupati padangan, dan selalu berburu dan pergi dan kembali ke negrinya  (padangan).  Suatu hari Minak Anggrang melihat istrinya sedang bersama pemuda pemuda itu tidak lain adalah Joko Grenteng yaitu adik dari Lanjar Maibit karena Minak Anggrang melihat kedekatan mereka diapun cemburu dan curiga kemudian Minak Anggrang menuduh  bahwa Joko Grenteng selingkuhan Lanjar Maibit. Joko Grenteng menjelaskan bahwa mereka bersaudara, tetapi Minak Anggrang tidak mempercayainya dan Minak Anggrang menyuruh mereka membuktikan kalau mereka benar benar bersaudara.kemudian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit setuju untuk melakukan bunuh diri berdasarkan syarat yang di berikan Minak Anggrang untuk membuktikan bahwa mereka bersaudara dan mereka tidak berselingkuh. Jika posisi kepala mayat mereka berdua berbeda dengan posisi saat mereka di kubur (kepala bersingkuran) membuktikan bahwa mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah dan jika posisi kepala mereka tidak berubah atau tetap pada posisi mereka saat di kuburkan(kepala saling berhadapan) itu berarti mereka membuktikan tidak bersaudara dan mereka bersalah.
Beberapa hari setelah kematian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit Minak Anggrang mengali kuburan Joko Grenteng dan Lanjar untuk melihat posisi kepala mereka. Ternyata posisi kepala mereka berdua berbeda dengan posisi mereka pada saat di kubur (kepala bersingkuran) yang artinya mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah. Mengetahui itu Minak Anggang sangat terkejut dan sangat menyesal karena dia tidak percaya pada penjelasan Joko Grenteng dan istri yang sangat di cintainya Lanjar Maibit.
Penyesalan pada diri Minak Anggrang terus terasa setiap saat sampai Minak Anggrang  jatuh sakit kemudian ajal menjemputnya. Dari kejadian itu menjelaskan bahwa Lanjar Maibit memiliki kesatuan cantik luar maupun dalam dan kemurnian cinta yang di miliki oleh seorang wanita. Kejujuran sri penganti  dalam membuktikan kebenaranya merupakan sebuah simbolik kesuciaan hati dan jiwanya. Masyarakat di sekitar sendang sangat menghormati jasa dari lanjar maibit dalam menjaga kehormatanya, dan menyebutnya sebagai Kearifan lokal atau tradisi didalam suatu desa.
Suatu desa dalam melestarikan tradisi leluhurnya sangat mampu menginspirasi masyarakat untuk tetap menjaga kearifan budaya lokal setempat. Adapun tokoh-tokoh lokal desa maibit/para leluhur meliputi: 1) Mbah Moyi, 2) Mbah Suro, 3) Mbah Ako, 4) Mbah Abdurrahman, 5) Mbah Gambira Laya (makam gaib), 6) Jaka Mursada, dan 7) Mbah Bibit. Telah berjasa dalam babad desa maibit pada zaman dahulu, tokoh-tokoh tersebut dimakamkan di sebelah timur sendang maibit yang berjarak+_250 M dari sendang. tokoh-tokoh babad desameliputi: Mbah Moyi, Mbah Suro, dan Mbah Ako, Selain disakralkan sebagai tokoh lokal Maibit.
Ketiga tokoh tersebut selalu dikenang dan dijaga masyarakat melalui sedekah bumi atau bersih desa setelah sedekah bumi di Sendang Maibit. Sebelum sedekah bumi dilakukan, masyarakat Maibit selalu kerja bakti untuk melakukan penghijauan di sekitar makam.   Tokoh lain sebagai tokoh lokal Maibit yaitu makam Syekh Abdurrahman. Tokoh ini merupakan keturunan Sunan Bonang. Dia dimakamkan di atas bukit Sendang Maibit sebelah Barat. Selain itu terdapat pula makam Jaka Mursada yang berada di bukit Sendang Maibit sebelah timur. Awalnya Jaka Mursada adalah anak selir dari negara Rum. Selir tersebut dibuang oleh Patih Negara Rum karena kehamilannya tidak dikendaki oleh raja. Pembuangan tersebut menggunakan perahu. Tempat bersandarnya perahu dikenal dengan Pring Sedapur.
Menurut cerita dari mulut ke mulut masyarakat Maibit, Pring Sedapur berasal dari galah perahu yang digunakan sebagai alat kemudi perahu ketika membuang Jaka Mursada. Tempat tersebut, saat ini menjadi tempat yang disakralkan oleh masyarakat Maibit, baik flora maupun faunanya.  Selain tokoh tersebut, satu tokoh yang masih dianggap sakral yaitu Pilang Gambira Laya. Tokoh tersebut berada di gunung Pilang. Letak gunung tersebut berada di sebelah utara Sendang Maibit, sekitar 0,5 km ke utara Sendang Maibit. Makam tersebut dipercayai masyarakat sebagi makam gaib. Tidak semua orang bisa mengetahui keberadaan makam tersebut. Makam tersebut hanyalah sebagian kecil dari kerajaan gaib di Maibit.
Mbah Bibit adalah tokoh cikal bakal terjadinya Desa Maibit. Selain itu, tokoh Sri Penganti merupakan tokoh yang dihormati oleh masyarakat Maibit karena hubungan dengan Mbah Bibit yang memunculkan cerita asal usul Maibit. Tokoh wanita Lanjar Maibitlah yang mampu mengikat kognisi sosial masyarakat Maibit. Dengan demikian, kognisi masyarakat maibit untuk tetap melestarikan ritual budayanya tidak terlepas dari cerita rakyat dari Desa Maibit sepertinya juga terkait dengan desa-desa yang lain. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya pengunjung yang kerap datang ke lokasi untuk mengadakan nyadran atau manganan. Terutama masyarakat dari Desa Temayang, Kecamatan Kerek, yang meyakini kalau akhir kisah hidup Sri Penganti berada di desa tersebut. Dimana di Desa Temayang, ada salah satu makam yang dipercaya sebagai makam dari lanjar maibit atau Sri Penganti (Nurhadi, 63 Tahun, Modin Desa maibit).

MUSTA (Musyawarah Tahunan) jurusan Sosiologi Agama 2018




Musyawarah Tahunan atau yang sering kita dengar MUSTA adalah forum tertinggi musyawarah mahasiswa dalam jurusan di IAIN Tulungagung. Begitupun musyawarah tahunan yang diadakan oleh jurusan Sosiologi Agama IAIN Tulungagung adalah forum tertinggi musyawarah mahasiswa jurusan Sosiologi Agama. Musyawarah Tahunan atau MUSTA jurusan Sosiologi Agama ini dilaksanakan di Gedung Arief Mustaqiem lantai 3 yang bertepatan di lokal U-35 pada tanggal 06 November 2018 pukul 10.00 WIB yang melibatkan seluruh anggota mahasiswa Sosiologi Agama IAIN Tulungagung yang masih tercatat sebagai mahasiswa aktif, serta Peninjau yaitu perwakilan dari lembaga atau organisasi kemasiswaan IAIN Tulungagung, yaitu SEMA-I, DEMA I, DEMA F, SEMA F, KMJ, HMJ, dan KPPS/KPU.
MUSTA ini diadakan untuk merumuskan dan menetapkan program-program kerja kepengurusan KMJ Sosiologi Agama Periode 2017-2018, memilih Ketua HMJ Sosiologi Agama periode 2018-2019, Membentuk tim formatur untuk melengkapi kepengurusan HMJ Sosiologi Agama periode 2017-2018. Musyawarah Tahunan ini berjalan dengan lancar meskipun mendapati kekeliruan, serta banyak yang megajukan opsi dan perubahan dalam beberapa sidang. Meskipun ini pengalaman pertama mahasiswa Sosiologi Agama semester 1 maupun semester 3 dalam melakukan MUSTA para mahasiswa ini sangat antusias hingga menimbulkan debat-debat panjang yang membutuhkan waktu yang lumayan lama hingga menumukan kata sepakat. Pada sidang pertama yakni sidang Pleno yang berjalan lancar tepatnya pada saat penentuan bakal calon ketua HMJ Sosiologi Agama tahun 2018-1019 yang mendapati 3 calon yang bernama Amrul Fikri, Naimul Huda, serta Qoidul G. M. Sehingga Musyawarah Tahunan ini berakhir dengan terpilihnya dua kandidat ketua HMJ-SA yang bernama Amirul Fikri mahasiswa Sosiologi Agama Semester 3 dan Naimul Huda mahasiswa Sosiologi Agama Semester 3 yang akan maju menjadi ketua HMJ-SA pada saat pemilihan serentak atau yang disebut pesta FUAD pada bulan Desember mendatang.
reporter: Adi Yulianto