event

MUSYAWARAH TAHUNAN JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG ANGKATAN 2018

MALIKA FC

TIM UTAMA FUTSAL SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG "MALIKA FC"

event

pacitan

SAVE PACITAN

kegiatan bakti sosial bersama LTNU di Pacitan, dengan agenda trauma hearing

Sosiologi Agama adalah salah satu program studi di lingkungan IAIN Tulungagung.yang bernaung di bawah Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD). SALAM SATU WARNA

Wednesday, November 7, 2018

PERI KECIL NEGERI MENANGIS LAGI

Cipt : KACAMATA SENJA

Peri kecil negeri menangis lagi
Keindahan yang dulu sangat indah
Kini jadi tumpukan sisa-sisa
Kenangan demi kenangan haram teringatkan
Peri kecil negeri menangis lagi
Sadarkah kita di uji oleh Tuhan
Sadarkah Tuhan kita cemburu
Dengan kesenangan kita melupakan-Nya
Peri kecil negeri menangis lagi
Puing-puing kokoh mencium tanah
Bercampuran dengan air mata
Insan-insan menjerit karna luka
Isak tangis sang insan tanpa reda
Tangan yang tergenggam sirna
Senyum manis berubah jadi tangis
Kebahagiaan yang renggut alam kita

Harapan






 Cipt : KACAMATA SENJA

Perasaan yang memudar nan hilang
Entah dari mana datangnya si pemudar
Ku bertanya pada bumi, langit, air, bahkan angin
Mereka tak menjawabnya dengan jelas
Kehancuran….
Hey dimana sisi keadilanmu itu
Duhai sejatimu kemana wahai diriku
Semangatmu hilang tanpa arah kemana
Air menetes bukan berarti kesedihan
Ataupun berarti sebuah kebahagiaan
Bagai kuda lepas tanpa pengemudi
Yang bebas nan tak tahu arah
Hingga ia temukan tempatnya
Tempat bagai bunga mekar
Hijau daun yang segar
Serta mentari menghangatkan kehidupan

Tuesday, November 6, 2018

Legenda Maibit by Naimatul Huda

Di suatu masa di desa maibit hiduplah seorang janda yang bernama Sri Penganti. Di perkirakan mereka hidup pada masa abad ke 14 masehi. Mereka tinggal di dekat sendang (perairan terbuka/semacam kolam kecil).
Sri penganti merupakan seorang ratu yang mengalami pelarian sampai ke maibit pada masa kerajaan Kediri, ( masa ken arok) pemaparan dari warga sendang maibit sukri. Dalam pelarianya sri penganti tidak langsung menetap ke desa maibit tetapi dia terlebih dulu singgah di desa-desa yang pernah di laluinya meliputi desa perungahan, ds. Mayang, desa sendang ngedangkreng( ds pengok). Setelah itu ia menetap didesa maibit dan angakat sebagai anak asuh kang bibit yang keseharianya sebagai penjual warung. Sri penganti memiliki saudara bernama joko grenteng.
Keindahan dan kecantikan janda itu sangatlah terkenal, banyak pemuda yang mengagumi kecantikannya, salah satunya Dalang Budoyo (dari desa maner).
Suatu ketika saat Sri Penganti atau biasa di sebut Lanjar Maibit (lanjar yang artinya semasa dia menikah belum pernah melakukan hubungan suami istri) sedang mandi di sendang tiba tiba Dalang Budoyo datang karena dia sangat mengagumi kecantikan Lanjar Maibit dia melihat Lanjar Maibit sedang mandi lalu dia naik ke atas pohon yang berada tak jauh dari tempat pemandian untuk memperhatikan Lanjar Maibit mandi dari atas pohon.
Tak sengaja lanjar maibit melihat bayangan di air yaitu bayangan Dalang Budoyo yang sedang memperhatikannya mandi  dari atas pohon. Saat melihat bayangan itu seketika Lanjar Maibit memakai selendangnya atau baju dan pergi meninggalkan tempat pemandiaanya. Ternyata cincin lanjar tertinggal di batu, Dalang Budoyo melihat cincin tersebut dan mengambilnya walaupun dia tidak bisa memiliki hati lanjar maibit tapi dia cukup senang mendapatkan cincin dari wanita yang sangatdi cintainya.
Selain Dalang Budoyo ada Begendung Kuwon (dari desa Pekuwon), Minak Jepolo (dari desa Sawahan/Logawe) dan masih banyak pemuda yang mengagumi Lanjar Maibit dan ingin menikahinya tapi mereka semua tidak ada yang bisa meluluhkan hati Lanjar Maibit.
Suatu ketika ada pemuda tampan yang bernama Minak Anggrang(dari padangan) putra Bupati Padangan sedang berburu burung di dekat sendang dia bertemu Lanjar Maibit dan dia terpesona oleh kecantikan sang Lanjar Maibit pada saat itu juga dia lansung jatuh cinta pada Lanjar. Ternyata Lanjar pun juga menyukai Minak Anggrang dan mereka pun menikah.

Karna minak angrang adalah seorang keturunan putra bupati padangan, dan selalu berburu dan pergi dan kembali ke negrinya  (padangan).  Suatu hari Minak Anggrang melihat istrinya sedang bersama pemuda pemuda itu tidak lain adalah Joko Grenteng yaitu adik dari Lanjar Maibit karena Minak Anggrang melihat kedekatan mereka diapun cemburu dan curiga kemudian Minak Anggrang menuduh  bahwa Joko Grenteng selingkuhan Lanjar Maibit. Joko Grenteng menjelaskan bahwa mereka bersaudara, tetapi Minak Anggrang tidak mempercayainya dan Minak Anggrang menyuruh mereka membuktikan kalau mereka benar benar bersaudara.kemudian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit setuju untuk melakukan bunuh diri berdasarkan syarat yang di berikan Minak Anggrang untuk membuktikan bahwa mereka bersaudara dan mereka tidak berselingkuh. Jika posisi kepala mayat mereka berdua berbeda dengan posisi saat mereka di kubur (kepala bersingkuran) membuktikan bahwa mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah dan jika posisi kepala mereka tidak berubah atau tetap pada posisi mereka saat di kuburkan(kepala saling berhadapan) itu berarti mereka membuktikan tidak bersaudara dan mereka bersalah.
Beberapa hari setelah kematian Joko Grenteng dan Lanjar Maibit Minak Anggrang mengali kuburan Joko Grenteng dan Lanjar untuk melihat posisi kepala mereka. Ternyata posisi kepala mereka berdua berbeda dengan posisi mereka pada saat di kubur (kepala bersingkuran) yang artinya mereka benar benar bersaudara dan mereka tidak bersalah. Mengetahui itu Minak Anggang sangat terkejut dan sangat menyesal karena dia tidak percaya pada penjelasan Joko Grenteng dan istri yang sangat di cintainya Lanjar Maibit.
Penyesalan pada diri Minak Anggrang terus terasa setiap saat sampai Minak Anggrang  jatuh sakit kemudian ajal menjemputnya. Dari kejadian itu menjelaskan bahwa Lanjar Maibit memiliki kesatuan cantik luar maupun dalam dan kemurnian cinta yang di miliki oleh seorang wanita. Kejujuran sri penganti  dalam membuktikan kebenaranya merupakan sebuah simbolik kesuciaan hati dan jiwanya. Masyarakat di sekitar sendang sangat menghormati jasa dari lanjar maibit dalam menjaga kehormatanya, dan menyebutnya sebagai Kearifan lokal atau tradisi didalam suatu desa.
Suatu desa dalam melestarikan tradisi leluhurnya sangat mampu menginspirasi masyarakat untuk tetap menjaga kearifan budaya lokal setempat. Adapun tokoh-tokoh lokal desa maibit/para leluhur meliputi: 1) Mbah Moyi, 2) Mbah Suro, 3) Mbah Ako, 4) Mbah Abdurrahman, 5) Mbah Gambira Laya (makam gaib), 6) Jaka Mursada, dan 7) Mbah Bibit. Telah berjasa dalam babad desa maibit pada zaman dahulu, tokoh-tokoh tersebut dimakamkan di sebelah timur sendang maibit yang berjarak+_250 M dari sendang. tokoh-tokoh babad desameliputi: Mbah Moyi, Mbah Suro, dan Mbah Ako, Selain disakralkan sebagai tokoh lokal Maibit.
Ketiga tokoh tersebut selalu dikenang dan dijaga masyarakat melalui sedekah bumi atau bersih desa setelah sedekah bumi di Sendang Maibit. Sebelum sedekah bumi dilakukan, masyarakat Maibit selalu kerja bakti untuk melakukan penghijauan di sekitar makam.   Tokoh lain sebagai tokoh lokal Maibit yaitu makam Syekh Abdurrahman. Tokoh ini merupakan keturunan Sunan Bonang. Dia dimakamkan di atas bukit Sendang Maibit sebelah Barat. Selain itu terdapat pula makam Jaka Mursada yang berada di bukit Sendang Maibit sebelah timur. Awalnya Jaka Mursada adalah anak selir dari negara Rum. Selir tersebut dibuang oleh Patih Negara Rum karena kehamilannya tidak dikendaki oleh raja. Pembuangan tersebut menggunakan perahu. Tempat bersandarnya perahu dikenal dengan Pring Sedapur.
Menurut cerita dari mulut ke mulut masyarakat Maibit, Pring Sedapur berasal dari galah perahu yang digunakan sebagai alat kemudi perahu ketika membuang Jaka Mursada. Tempat tersebut, saat ini menjadi tempat yang disakralkan oleh masyarakat Maibit, baik flora maupun faunanya.  Selain tokoh tersebut, satu tokoh yang masih dianggap sakral yaitu Pilang Gambira Laya. Tokoh tersebut berada di gunung Pilang. Letak gunung tersebut berada di sebelah utara Sendang Maibit, sekitar 0,5 km ke utara Sendang Maibit. Makam tersebut dipercayai masyarakat sebagi makam gaib. Tidak semua orang bisa mengetahui keberadaan makam tersebut. Makam tersebut hanyalah sebagian kecil dari kerajaan gaib di Maibit.
Mbah Bibit adalah tokoh cikal bakal terjadinya Desa Maibit. Selain itu, tokoh Sri Penganti merupakan tokoh yang dihormati oleh masyarakat Maibit karena hubungan dengan Mbah Bibit yang memunculkan cerita asal usul Maibit. Tokoh wanita Lanjar Maibitlah yang mampu mengikat kognisi sosial masyarakat Maibit. Dengan demikian, kognisi masyarakat maibit untuk tetap melestarikan ritual budayanya tidak terlepas dari cerita rakyat dari Desa Maibit sepertinya juga terkait dengan desa-desa yang lain. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya pengunjung yang kerap datang ke lokasi untuk mengadakan nyadran atau manganan. Terutama masyarakat dari Desa Temayang, Kecamatan Kerek, yang meyakini kalau akhir kisah hidup Sri Penganti berada di desa tersebut. Dimana di Desa Temayang, ada salah satu makam yang dipercaya sebagai makam dari lanjar maibit atau Sri Penganti (Nurhadi, 63 Tahun, Modin Desa maibit).

MUSTA (Musyawarah Tahunan) jurusan Sosiologi Agama 2018




Musyawarah Tahunan atau yang sering kita dengar MUSTA adalah forum tertinggi musyawarah mahasiswa dalam jurusan di IAIN Tulungagung. Begitupun musyawarah tahunan yang diadakan oleh jurusan Sosiologi Agama IAIN Tulungagung adalah forum tertinggi musyawarah mahasiswa jurusan Sosiologi Agama. Musyawarah Tahunan atau MUSTA jurusan Sosiologi Agama ini dilaksanakan di Gedung Arief Mustaqiem lantai 3 yang bertepatan di lokal U-35 pada tanggal 06 November 2018 pukul 10.00 WIB yang melibatkan seluruh anggota mahasiswa Sosiologi Agama IAIN Tulungagung yang masih tercatat sebagai mahasiswa aktif, serta Peninjau yaitu perwakilan dari lembaga atau organisasi kemasiswaan IAIN Tulungagung, yaitu SEMA-I, DEMA I, DEMA F, SEMA F, KMJ, HMJ, dan KPPS/KPU.
MUSTA ini diadakan untuk merumuskan dan menetapkan program-program kerja kepengurusan KMJ Sosiologi Agama Periode 2017-2018, memilih Ketua HMJ Sosiologi Agama periode 2018-2019, Membentuk tim formatur untuk melengkapi kepengurusan HMJ Sosiologi Agama periode 2017-2018. Musyawarah Tahunan ini berjalan dengan lancar meskipun mendapati kekeliruan, serta banyak yang megajukan opsi dan perubahan dalam beberapa sidang. Meskipun ini pengalaman pertama mahasiswa Sosiologi Agama semester 1 maupun semester 3 dalam melakukan MUSTA para mahasiswa ini sangat antusias hingga menimbulkan debat-debat panjang yang membutuhkan waktu yang lumayan lama hingga menumukan kata sepakat. Pada sidang pertama yakni sidang Pleno yang berjalan lancar tepatnya pada saat penentuan bakal calon ketua HMJ Sosiologi Agama tahun 2018-1019 yang mendapati 3 calon yang bernama Amrul Fikri, Naimul Huda, serta Qoidul G. M. Sehingga Musyawarah Tahunan ini berakhir dengan terpilihnya dua kandidat ketua HMJ-SA yang bernama Amirul Fikri mahasiswa Sosiologi Agama Semester 3 dan Naimul Huda mahasiswa Sosiologi Agama Semester 3 yang akan maju menjadi ketua HMJ-SA pada saat pemilihan serentak atau yang disebut pesta FUAD pada bulan Desember mendatang.
reporter: Adi Yulianto

Monday, November 5, 2018

aksi bela tauhid atau bela kamu?

Melihat fenomena agama yang terjadi di Indonesia begitu miris melihat bahwa suatu agama bisa menjadi bibit-bibit perpecahan di dalam suatu negara. Perpercahan atau konflik agama menjadi beberapa faktor yang sering terjadi dan mengakibatkan konflik di seluruh dunia dan Islam menjadi salah satu agama yang memang sangat mudah untuk dijakdikan bahan pemecah belah seperti yang terjadi di Suriah dan kawasan timur tengah lainnya.
Perpecahan yang terjadi di negara-negara lain juga sama seperti yang terjadi di Indonesia ada yang berbeda madhab dan Ideologi menjadi awal perpecahannya, dari satu kelompok yang tidak mua mengalah dengan kelompok lain sehingga menganggap pemikirannya itu benar dan yang lain salah sehingga memicu konflik di kalangannya sendiri. Kejadian inipun merembet sampai pada kawasan kekuasaan dan berujung pada kedudukan politik sebagai penentu siapa yang paling berjaya pada suatu negara tersebut.
Pemikiran radikalismepun muncul di kawasan Indonesia dan mulai memberikan doktrin bahwa khilafah adalah salah satu system yang paling baik untuk digunakan dalam bernegara. Pemikiran ini tidak sepenuhnya diterima dikalangan orang islam sendiri, di Indonesia banyak orang-orang yang menentang pemikiran dan system ini bahkan  didunia sekalipun orang kurang menykai system khilafah yang diusung karena melihat sejarah dimana system seperti ini memang tidak bisa bertahan lama dan berakhir pada peperangan antar agama dan bisa juga hancur gara-gara internalnya sendiri yang gila kekuasaan.
Fenomena seperti yang terjadi kemarin bisa kita amati secara umum ada beberapa kepentingan yang terlihat jelas. Yang pertama tentu mensyiarkan bahwa islam itu besar dan tidak boleh diremehkan di Indonesia dan menandakan bahwa bendera jihad itu berwarna hitam dan bertuliskan kalimat tauhid didalamnya, menjadi satu upaya untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa islam mempunyai bendera kebesaran seperti yang dikibarkan oleh mereka akan tetapi pemikiran secara umum di seluruh dunia memandang bahwa bendera seperti itu identik bendera HTI dan tidak boleh berkibar diseluruh dunia, kecuali di Indonesia. Fakta kedua digunakan sebagai  alat politik, bisa dilihat bahwa kegiatan demo yang awalnya membela agama berujung pada keinginan untuk menggantikan presiden yang berkuasa saat ini dengan memaparkan fakta-fakta yang kurang kuat dalam orasinya.
Mungkin ini saja yang bisa saya tulis dalam atikel ini masih banyak lagi fakta-fakta yang ada dibalik aksi ini yang sengaja tidak saya tulis. Dan ini hanya sebuah pandangan saya tentang kejadian yang ada saat ini bukan bermaksud lain saya hanya ingin menulis apa yang saya ketahui tentang kejadian ini dengan niatan untuk belajar mengkritik, meganalisis suatu kejadian secara behavior.

Wednesday, October 31, 2018

Teori Fungsionalme Struktural menurut para ahli

A.    PENDAHULUAN
Sebelum beralih ke fungsionalisme structural dan teori konflik yang spesifik, Kita perlu mengikuti Thomas Bernard untuk menempatkan kedua teori ini dalam konteks pembahasan yang lebih luas antara teori consensus (salah satu diantaranya adalah fungsionalisme struktural) dan teori konflik.
Teori consensus memandang norma dan nilai sebagai landasan masyarakat, memusatkan perhatian kepada keteraturan social berdasarkan atas kesepakatan diam-diam dan memandang perubahan social terjadi secara lambat dan teratur, sebaliknya, teori konflik menekankan pada dominasi kelompok social tertentu oleh kelompok lain, melihat keteraturan social didasarkan atas manipulasi dan control oleh kelompok dominan dan memandang perubahan social terjadi secara cepat dan menurut cara yang tak teratur ketika kelompok-kelompok subordinat menggulingkan kelompok yang semula dominan.
Meski criteria tersebut mendefinisikan perbedaan esensial antara teori sosiologi fungsionalisme structural dan teori konflik, tidak boleh lupa bahwa mereka mempunyai kesamaan yang penting. Dan seorang tokoh sosiolog Bernard menyatakan bahwa “area kesamaan di antara keduanya jauh lebih ekstensif ketimbang perbedaannya”. Misalnya, kedua-duanya sama-sama berada di tingkat makro yang memusatkan perhatian pada “Struktur Social” dan “Institusi Sosial” berskala luas. Akibatnya keuda teori itu ada dalam paradigm “fakta social” atau sosiologi yang sama.
Sementara dalam makalah ini pemakalah mengangkat rumusan masalah sebagai berikut:
1.         Apakah yang dimaksud dengan fungsionalisme struktural?
2.         Apakah yang dimaksud dengan teori konflik?


B.     PEMBAHASAN
George Ritzer memperkenalakan paradigma ini sebagai paradikma yang pertama dalam kajian sosiologi. Paradikma ini diambil dari Durkheim, melalui karyanya The Rules of Sociological Method dan Suicide. Durkheim melihat sosiologi yang baru lahir itu, dalam upaya untuk memperoleh kedudukan sebagai cabang ilmu yang berdiri kokoh, yakni filsafat psikologi.[1][1] Menurut Durkheim fakta  sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta sosial dinyatakan sebagai sesuatu (think), yang berbeda dengan ide. Sesuatu tersebut menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami melalui penyelidikan atau kegiatan mental murni (spekulatif). Untuk memahaminya diperlukan data riil di luar pemikiran manusia. Fakta sosial tidak dapat dipelajari melalui introspeksi, fakta sosial harus diteliti didalam dunia nyata.
Durkheim merumuskan dua bentuk fakta sosial yaitu :
1.        Bentuk materil, yaitu sesuatu yang dapat disimak, ditangkap dan diobservasi. Fakta ini adalah bagian dari dunia nyata (external world). Contohnya: arsitek dan norma hukum.
2.        Bentuk non-materil, yaitu sesuatu yang dianggap tidak nyata (external). Fakta ini merupakan fenomena yang sifatnya intersubjektif, yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya: egoisme, altruisme, serta opini.[2][2]
Sementara itu, fakta psikologi menurut Durkheim adalah fenomena yang dibawa oleh manusia sejak lahir, bukan merupakan hasil pergaulan hidup masyarakat. Durkheim menyatakan bahwa fakta sosial tidak dapat diterangkan dengan fakta psikologis, ia hanya dapat diterangkan oleh faktor sosial pula. Secara lebih terperinci, fakta sosial itu sendiri terdiri atas kelompok, kesatuan masyarakat (societies), sistem sosial, peranan, nilai-nilai keluarga dan pemerintahan. Dalam menentukan teori fakta sosial, Ritzer mengemukakan ada tiga macam teori, yaitu :
1.        Fungsionalisme Struktural
Robert Nisbet menyatakan “Jelas bahwa fungsionalisme structural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu social di abad sekarang”, sedangkan Kingsley Davis berpendapat, fungsionalisme structural adalah sinonim dengan sosiologi
Teori stratifikasi fungsional seperti diungkapkan Kingsley Davis dan Wilbert Moore mungkin merupakan sebuah karya paling terkenal dalam fungsionalisme structural, mereka menjelaskan bahwa mereka menganggap stratifikasi social sebagai fenomena universal dan penting. Mereka menyatakan bahwa tak ada masyarakat yang tidak terstratifikasi atau sama sekali tanpa kelas.menurut pandangan mereka.
Stratifikasi adalah keharusan fungsional. Semua masyarakat memerlukan system seperrti ini dan keperluan ini menyebabkan adanya system stratifikasi. Mereka juga memandang sistem stratifikasi sebagai sebuah struktur, dan menunjukan bahwa stratifiksi tidak mengacu kepada individu di dalam system stratifikasi, tetapi lebih kepada system posisi (kedudukan). Mereka memusatkan perhatian pada persoalan bagaimana cara posisi tertentu memengaruhi tingkat prestise yang berebeda dan tidak memusatkan perhatian pada masalah bagaimana cara individu dapat menduduki posisi tertentu.[3][3]
Teori Fungsionalisme Struktural menurut Talcott Parsons
Teori Fungsionalisme Parsons ini dimulai dengan empat fungsi penting untuk semua system “tindakan”, yang terkenal dengan skema AGIL.
AGIL. Suatu fungsi (function) adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan system. Dengan menggunakan definisi ini, Parsons yakin bahwa ada empat fungsi penting diperlukan semua system – adaptation (A), goal attainment (G), integration (I), dan latensi (L) atau pemeliharaan pola. [4][4]
Secara bersama-sama, keempat imperative fungsional ini dikenal sebagai skema AGIL. Agar tetap bertahan (survibe), suatu system harus memiliki empat fungsi ini:
1)      Adaptation (adaptasi): sebuah system harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. System harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya
2)      Goal attainment (Pencapaian tujuan): sebuah system harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
3)      Integration (Integrasi): sebuah system harus mengatur antarhubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya.
4)      Latency (latensi atau pemeliharaan Pola): sebuah system harus memperlengkapi memelihara dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola kulturalo yang menciptakan dan menopang motivasi.
Fungsional Struktural menurut Robert Merton
Robert Merton adalah salah satu muridnya Parsons, yang menulis beberapa pernyataan terpenting tentang fungsionalisme structural dalam sosiologi. Merton mengecam beberapa aspek fungsionalisme structural yang lebih ekstrem dan yang tak dapat dipertahankan lagi. Tetapi, wawasan konseptual barunya membantu memberikan kemanfaatan bagi kelangsungan hidup fungsionalisme structural.
Merton ini lebih menyukai teori yang terbatas atau teori tingkat menengah, hal ini berbeda dengan gurunya Parsons yang menganjurkan penciptaan teori-teori besar dan luas cakupannya.
a)        Teori ini menekankan keteraturan (order), mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Yang menjadi konsep utamanya adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest, dan keseimbangan.
b)       Masyarakat merupakan suatu sistem sosial, yang terdiri  atas bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Dengan demikian perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian lainnya.
c)        Asumsinya, bahwa setiap struktur dalam sistem sosial berfungsi terhadap sistem yang lainnya (fungsional). Sebaliknya kalau struktur itu tidak fungsional maka akan hilang atau tidak ada dengan sendirinya.
d)       Penganut teori ini cenderung untuk melihat hanya pada sumbangan satu sistem atau peristiwa terhadap sistem yang lainnya, yang dapat beroperasi menentang fungsi-fungsi lain dalam suatu sistem sosial.
2.        Konflik
Teori konflik sebagian berkembang sebagai reaksi terhadap fungsionalisme structural dan akibat kritik. Pendirian teori konflik dan teori fungsionalis disejajarkan. Menurut fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Tetapi menurut darendorf, dan teori konflik lainnya, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan.fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, sedangkan teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam system social. Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas. Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan.
Fungsionals cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai dan moral. Teoritisi konflik melihat apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas. Fungsionalis memusatkian perhatian pada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama masyarakat. Teoritisi konflik menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Dahrendorf ia juga termasuk orang yang dipengaruhi oleh fungsionalisme structural. Ia menyatakan bahwa, menurut fungsionalis, system social dipersatukan oleh kerja sama sukarela atau oleh consensus bersama atau oleh kedua-duanya. Tetapi menurut teoritisi konflik masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan.[5][5]
a)        Teori ini dibangun untuk menentang secara langsung teori fungsionalisme struktural. Tidaklah mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan oleh penganutnya bertentangan dengan teori fungsionalisme structural. Tokoh utama teori ini adalah Ralf Dahrendrof.
b)       Masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai dengan pertentangan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya.
c)        Setiap elemen dalam masyarakat akan memberi dukungan bagi disintegrasi sosial. Bertentangan  dengan teori fungsionalisme structural, yang menganggap bahwa setiap elemen atau institusi dapat memberikan dukungan terhadap  stabilitas.
d)       Keteraturan dalam masyarakat itu hanya disebabkan oleh adanya tekanan atau pemaksaan dari golongan yang berkuasa. Sedangkan dalam teori fungsionalisme struktural, semua yang teratur dalam masyarakat adalah karena adanya nilai-nilai moralitas umum.
e)        Tesis sentral teori ini adalah wewenang dan posisi. Keduaya merupakan fakta sosial. Intinya adalah “distribusi kekuasaan dan wewenang secara tidak merata, tanpa kecuali menjadi faktor yang menentukan konflik secara sistematis”.
f)        Berghe mengemukakan empat fungsi dari adanya konflik (masalah), yaitu :
§  Sebagai alat untuk memelihara solidaritas.
§  Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lainnya.
§  Mengaktifkan peran individu yang semula terisolasi.
§  Konflik berfungsi sebagai komunikasi.
Sementara itu, teori konflik ini juga telah dikritik dengan berbagai alasan. Misalnya, teori ini diserang karena mengabaikan ketertiban dan stabilitas, sedangkan fungsionalisme structural diserang karena mengabaikan konflik dan perubahan. Teori konflik juga dikritik karena berideologi radikal, sedangkan fungsionalisme dikritik karena ideology konservatifnya. Bila dibandingkan dengan fungsionalisme structural, teori konflik tergolong tertinggal perkembangannya.[6][6]
Kritik yang dilancarkan terhadap teori konflik dan fungsionalisme struktural maupun kekurangan yang melekat di dalam masing-masing teori itu, menimbulkan beberapa upaya untuk mengatasi masalahnya dengan merekonsiliasi atau mengintegrasikan kedua teori itu. Asumsinya adalah bahwa dengan kombinasi maka kedua teori itu akan menjadi lebih kuat ketimbang masing-masing berdiri sendiri.
Pemikiran awal tentang fungsi konflik social berasal dari George Simmel, tetapi diperluas oleh Coser, yang menyatakan bahwa konflik dapat membantu mengeratkan ikaatan kelompok yang terstruktur secara longgar. Masyarakat yang mengalami disintegrasi atau berkonflik dengan masyarakat lain, dapat memperbaiki kepaduan integrasi.
Konflik sebagai agen untuk mempersatukan masyarakat adalah sebuah pemikiran yang sejak lama diakui oleh tukang propaganda. Contoh, konflik dengan Arab menimbulkan aliansi antara Israel dan Amerika Serikat. Berkurangnya konflik Israel dengan Arab mungkin dapat memperoleh hubungan antara Israel dan Amerika Serikat.
Dalam satu masyarakat, konflik dapat mengaktifkan peran individu yang semula terisolasi. Protes terhadap perang Vietnam memotivasi kalangan anak muda untuk pertama kali berperan dalam kehidupan politik di Amerika. Dengan berakhirnya konflik Vietnam muncul kembali semangat apatis di kalangan pemuda Amerika.
Konflik juga membantu fungsi komunikasi. Sebelum konflik, kelompok-kelompok mungkin tak percaya terhadap posisi musuh mereka. Tetapi akibat konflik posisi dan batas antarkelompok ini sering menjadi diperjelas. Karena itu individu bertambah mampu memutuskan untuk mengambil tindakan yang tepat dalam hubungannya dengan musuh mereka. Konflik juga memungkinkan pihak yang bertikai menemukan ide yang lebih baikmengenai kekuatan relative mereka dan menigkatkan kemungkinan untuk saling mendekati atau saling berdamai.
3.        Sistem
Dari pemahaman sistem secara umum, pengertian-pengertian yang terkandung didalamnya adalah :
a)        Sistem itu berorientasi kepada tujuan.
b)       Keseluruhan adalah lebih sekedar jumlah dari bagian-bagiannya.
c)        Suatu sistem berinteraksi dengan sistem yang lebih besar, yaitu lingkungannya (keterbukaan sistem).
d)       Bekerjanya bagian-bagian sistem itu menciptakan suatu  yang berharga
e)        Masing-masing bagian harus cocok satu sama lain (keterhubungan).
f)        Ada kekuatan pemersatu yang mengikat sistem itu (mekanisme control)

Dari pengertian-pengertian dasar sistem tersebut, komponen-komponen yang mencirikan suatu sistem yaitu :
a)        Suatu kompleks keseluruhan yang terdiri dari sejumlah elemen. Ada bagian yang menjadi bagian dari sistem tersebut.
b)       Yang ducirikan oleh adanya interelasi, saling mempengaruhinya bagian-bagian yang ada.
c)        Adanya suatu kesatuan yang terintegrasi, bagian-bagian yang ada merupakan suatu kesatuan yang otonom dibandingkan dengan keseluruhan lainnya. Dengan demikian keseluruhan tersebut membentuk sebuah entitas.
d)       Ditujukan kearah pencapaian sasaran tertentu.
e)        Tujuan memberi makna bagi keberadaan sistem tersebut.[7][7]

C.     KESIMPULAN
Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas. Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan.
Fungsionals cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai dan moral. Teoritisi konflik melihat apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas.
Fungsionalis memusatkan perhatian pada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama masyarakat. Teoritisi konflik menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Dahrendorf ia juga termasuk orang yang dipengaruhi oleh fungsionalisme structural. Ia menyatakan bahwa, menurut fungsionalis, system social dipersatukan oleh kerja sama sukarela atau oleh consensus bersama atau oleh kedua-duanya. Tetapi menurut teoritisi konflik masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan





D.    PENUTUP
Demikian makalah kami tentang Teori Fungsionalisme Struktural, Dan Teori Konflik yang  pemakalah sampaikan. Pemakalah sadar bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan karena keterbatasan pemakalah dalam memahami dan menelaah. Untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat pemakalah harapkan. Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi pemakalah khususnya. Wassalam.























DAFTAR PUSTAKA

George Riter, Douglas J. Goodman, Edit. Tri Wibowo Budi Santoso, Teori Sosiologi Modern, Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2007.
Yesmil Anwar & Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, PT Gramedia Widiasara Indonesia, Jakarta : 2008











Tim futsal Sosiologi Agama IAIN Tulungagung sebagai delegasi dari rayon PMII jalaludin rumy meraih juara 1 dalam ajang PMII CUP RAYON SYECH BASYARUDDIN

TULUNGAGUNG- tim futsal Sosiologi Agama IAIN Tulungagung  sebagai delegasi dari rayon PMII jalaludin rumy meraih juara 1 dalam ajang PMII CUP RAYON SYECH BASYARUDDIN yang diadakan di YG FUTSAL CENTER.
Tim utama futsal dari jurusan sosiologi agama kemarin pada Sabtu, 27 Oktober 2018 berhasil menyabet gelar juara pertama. Kemenangan ini diraih dengan penuh perjuangan dan juga kekompakan tim yang dimiliki, perjuangan mereka bukanlah hal yang muda karena lawan-lawan mereka juga mempunyai skil dan juga kekompakan tim yang sama rata.“Kekompakan tim dan juga mental pemain sangat dibutuhkan di dalam sebuah pertandingan,” ujar Muhammad Nur Sholeh sambil mengusap keringatnya.
Kompetisi ini di ikuti oleh beberapa delegasi setiap rayon PMII dan juga IPNU kabupaten Tulungagung. Ada 12 tim yang bermain pada kejuaraan ini mereka mendelegasikan pemain-pemain terbaiknya salah satunya rayon jalaludin rummy yang mendelegasikan tim utama futsal dari jurusan Sosiologi agama.
Pertandingan pertama dilewati dengan kemenangan telak dikarenakan musuh tidak datang tepat waktu, baru di pertandingan kedua tim yang diketuai oleh Nur Sholeh ini bisa memperlihatkan skill dan kemampuan mereka. Di tahap semifinal juga demikian para pemain tidak meremehkan lawan yang dihadapinya dengan penuh konsentrasi dan juga kekompakan tim mereka bisa lolos ke babak final, di babak final sendiri para pemain futsal  dari sosiologi agama harus menghadapi partai penentuan yaitu pinalti karena skor 2-2 bertahan sampai menit terakhir babak kedua, dan akhirnya kemenanganpun diraih oleh tim ini dan berhasil menyabet gelar juara 1 dalam acara ini.