event

MUSYAWARAH TAHUNAN JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG ANGKATAN 2018

MALIKA FC

TIM UTAMA FUTSAL SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG "MALIKA FC"

event

pacitan

SAVE PACITAN

kegiatan bakti sosial bersama LTNU di Pacitan, dengan agenda trauma hearing

Sosiologi Agama adalah salah satu program studi di lingkungan IAIN Tulungagung.yang bernaung di bawah Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD). SALAM SATU WARNA

Tuesday, April 6, 2021

Memahami ETNOMETODOLOGI

 Penulis: Defi Tri Astuti

    Jumat, 19 Maret 2021 pukul 19.00-21.00 Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Etnometodologi” yang dipantik oleh Siti Maryam Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan ditemani oleh moderator Laila Nur Afifah Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Diskusi ini dilakukan secara virtual di rumah masing-masing melalui WhatsApp Grup.

    Tema kali ini membahas tentang Gambaran Etnometodologi, Tercetusnya Etnometodologi, Cara pandang Garfinkel dalam Etnometodologi, Perspektif Garfinkel dan Emile Durkheim dalam mempertimbangkan Etnometodologi, Klasifikasi Sosiologi dan Etnometodologi, Analisis Percakapan, Penerapan analisis percakapan, Kajian lembaga, Kelemahan dan kelebihan.

    Menurut Mudjia Rahardjo, Etnometodologi berasal dari tiga kata Yunani “etnos”, “metodas”, dan “Logos”. Etnos artinya orang, metodos artinya metode, dan logos berarti ilmu, secara hafiah etnometodologi studi atau ilmu tentang metode yang digunakan untuk meneliti bagaimana individu-individu menciptakan dan memahami kehidupan mereka sehari-hari, seperti cara mereka menyelesaikan pekerjaan di dalam hidup sehari-hari. Sedangkan menurut Gafrinkel Etnometodologi yakni himpunan pengetahuan akal sehat dan deretan prosedur-prosedur dan pertimbangan yang digunakan para anggota masyarakat awam untuk memaknai, menemukan jalan, dan bertindak menghadapi kondisi mereka menemukan diri.

     Etnometodelogi diciptakan oleh Harold Gafrinkel pada 1940 an tetapi pada tahun 1967 baru pertama kali dibomingkan dengan penerbitan karyanya Studies In Ethnomethodology. Seiring berkembangnya masa etnometodelogi mengalami perkembangan Don Zimmerman menyimpulkan bahwa sudah ada beberapa variaetas etnometodelogi. Zimmeran menyatakan etnometodelogi meliputi “sejumlah gagaris-garis penelitian yang kurang cocok (1978)”, sepuluh tahun kemudian Paul Atkinson (1988) mengaris bawahi kurangnya koherensi di dalam etnometodelogi dan berargumen lebih jauh bahwa setidaknya beberapa etnometodolog telah menyimpang terlalu jauh dari premis-premis mendasari pendekatannya.

    Cara pandang etnometodelogi Garfinkel tidak lepas dari tokoh sosiologi terkemuka seperti Talcott Parsons karena studi etnometodologi memerlukan kedalaman pengamatan secara detail tentang praktik kehidupan keseharian masyarakat melalui observasi secara langsung mengenai percakapan mereka atau bisa direkam melalui video, karena lebih bertumpu pada percakapan sehari-hari (cerita) individu, maka etnometodologi berpengaruh sangat besar pada kelahiran metode analisis percakapan. Asumsinya adalah percakapan atau cerita merupakan cara orang mengkonstruksi realitas.

    Garfinkel mempertimbangkan etnometodologi dengan fakta-fakta sosial seabagai fenomena frundamental, akan tetapi fakta sosial Garfinkel sangat berbeda dengan fakta-fakta sosial Emile Durkheim. Bagi Durkheim, fakta-fakta sosial eksternal bagi dan bersifat memaksa kepada para individu dan para aktor tidak dapat dipisahkan dari struktur-struktur, lembaga-lembaga sosial yang tidak dapat mengontrol pertimbangan independen. Namun bagi etnometodelogi realitas objek-objek fakta sosial, terdapat di dalam persis di setiap masyarakat, baik secara lokal dan endogen, mengorganisirnya secara alami, dengan demikian merupakan fenomena frundamental sosiologi. 

    Menurut klasifikasi sederhana ini, etnometodologi adalah satu teori sosiologis sebagai:

Pertama, didasarkan pada karya Max Weber tentang aksi sosial 

Kedua, berkaitan dengan definisi dan tindakan sosial 

Ketiga, menggunakan berbagai pendekatan metodologis. 

    Klasifikasi Ritzer pertama kali dikembangkan pada tahun 1975 dan dipertahankan di versi terbarunya buku, tetapi dengan pemeriksaan lebih dekat dari arah teoritis yang lebih baru, teori sistem dalam paradigma fakta sosial dan eksistensialisme dalam sosial definisi paradigma. Diskusi Ritzer diringkas di sini karena memberikan wawasan pertama tentang apa etnometodologi adalah dan di mana perspektif dapat ditempatkan dalam sosiologi sebagai disiplin. Seperti bentuk lain, ini adalah gambaran sederhana dari berbagai paradigma atau perspektif dalam sosiologi. Misalnya, beberapa akan kehilangan penempatan perspektif post-modern.

    Orang lain akan tidak setuju di lokasi yang berbeda teori dan banyak ahli etnometodologi tidak akan setuju bahwa etnometodologi adalah teori sama sekali, melainkan cara yang secara fundamental baru dalam mempelajari sosial fenomena Etnometodologi, Kontribusi Norwegia awal. Dalam konteks sejarah, mungkin menarik untuk melihat lebih dekat bagaimana seorang sosiolog Norwegia memahami etnometodologi. Kontribusinya tidak adil sejarah yang menarik; itu sebenarnya juga menyediakan salah satu dari awal yang paling mudah dibaca pengantar beberapa dasar etnometodologi. Thomas Mathisen (1975) mempresentasikan dalam presentasinya tentang etnometodologi tiga model utama yang dia temukan bermanfaat dalam studi tentang apa yang dia lakukan pada masa itu jargon menyebutnya "struktur dan perkembangan masyarakat". Model diberi nama norma, pengalaman dan model paksaan, masing-masing.

    Analisis percakapan memiliki tujuan yakni mempelajari cara-cara pengaturan percakapan yang sudah dianggap benar seperti struktur frundamental interaksi percakapan. Percakapan adalah suatu aktivitas rasional yang menunjukkan sifat yang stabil atau teratur merupakan prestasi orang yang bercakap-cakap yang dapat dianalisis. Percakapan ini terdapat suatu titk fokus yakni pembatasan-pembatasan internal. Zimmerman memerinci terdapat lima kerja dasar analisis percakpan:

 Pertama, analisis percakapan memerlukan himpunan dan analisis atas data yang sangat rinci mengenai percakapan-percakapan.

Kedua, rincian paling baik dari suatu percakapan pun harus dianggap sesuai suatu pencapaian yang rapi. 

Ketiga, interaksi pada umumnya dan percakapan pada khususnya mempunyai sifat-sifat stabil yang rapi merupakan prestasi para aktor yang terlibat.

Keempat, kerangka percakapan frundamental yakni pengaturan kuensial 

Kelima, secara metodelogis, para analisis percakapan mendorong untuk mempelajari percakapan-percakapan di dalam situasi yang terjadi secara alamiah, sering menggunakan audiotape atau videotape.

    Penerapan-penerapan analisis percakapan anatara lain;

Pertama, Percakapan-percakapan telepon: identivikasi dan pengakuan, Schegloff melihat permulaan percakpantelepon, yang dia definisikan sebagai “suatu tempat yang di dalamnya tipe percakapan dapat dibuka diajukan, ditampilkan, diterima, ditolak, dimodifikasi durasi, disusun pertemuan peserta. 

Kedua, Memulai tertawa, Menurut Gail Jefferson ketawa adalah suatu peristiwa yang seluruhnya bebas disepanjang serangkaian percakapan dan interaksi.

Ketiga, Menghasilkan tepuk tangan, Jhon Heritage dan David Greatbatch mereka berargumen bahwa tepuk tangan dihasilkan oleh pernyataan-pernyataan secara verbal disusun. Terdapat tujuh peralatan teoritis dasar yaitu: kontras, daftar, solusi membingungkan, bagian utama,kombinasi, mengambil posisi, dan pengejaran. 

Keempat, Kemunculan interaktif kalimat-kalimat dan cerita-cerita, Charles Goodwin berpandangan bahwa kalimat-kalimat muncul bersama percakapan, faktanya pembicara dapat merekontruksi makna kalimat sewaktu dia sedang menghasilkannya untuk mempertahankan kepantasan bagi penerimanya pada saat itu.

     Kajian lembaga dalam etnometodologi meliputi; Wawancara kerja, Panggilan telepon kepusat-pusat darurat, Negosiasi-negosiasi eksekutif, Memecahkan pertengkaran di dalam dengar pendapat mediasi.

     Etnometodologi sebagai sebuah varian dalam penelitian kualitatif, tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan etnometodologi sangat tepat digunakan untuk meneliti sikap individu-individu dalam organisasi atau institusi. Misalnya, untuk memahami cara orang melaksanakan tugas kantor, sekolah atau perusahaan dan proses yang terjadi dalamnya. Sedangkan kekurangan etnometodologi misalnya, tidak tepat digunakan untuk meneliti sikap dalam lingkup yang luas. Untuk meneliti sikap dalam lingkup luas lebih tepat menggunakan survei.

    Etnometodologi jika dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan lainnya sedikit berbeda dalm penelitian kualitatif menggunakan asumsi teori proposisi dan kegiatan pengkajian yang ada pada fenomena-fenomena tersebut. Sedangkan pendekatan lainnya ialah peneliti melihat fenomena dengan berbekal asumsi-asumsi atau teori memahami fenomena yang dikaji. Alasan Etnometodologi berbeda karena berfokus pada individu dan menggunakan percakapan keseharian. Kalau Etnometodologi berfokus pada budaya masyarakat atau anggota masyarakat disebut etnografi.

    Dalam sutau tindakan peristiwa disebut fenomenologi. Dan etnologi sendiri lebih berfokus dunia kontruksi individu-individu didalamnya yang memahami suatu akal sehat yang berlaku dan makna yang diterima secara bersama-sama. Etnometodologi dan interaksionalisme simbolik ini sangat berkaitan seperti yang dipaparkan oleh Garfinkel bahwa etnometodologi merupakan himpunan akal sehat dari deretan prosedur pertimbangan. Dapat ditemukan melalui percakapan individu, jika dikaitkan pada interaksionaisme simbolik dapat ditemukan pemikiran dari George Herbertnith mengenai pikiran. Ia menganggap bahwa proses pemikiran atau percakapan batin dengan diri sendiri tidak ditemukan daam individu, pikiran ini muncul dan berkembang dalam proses sosial bagian internal. 

    Yang kedua mengenai “Diri” secara umum diri sendiri sebagai objek dan diri bisa menempatkan diri atau kemampuan yang khas untuk menjadikan obyek. Etnometodologi pada dasarnya adalah perspektif Amerika yang tidak kebanyakan perspektif ilmu sosial lainnya. Di Norwegia istilah itu pertama kali muncul pada tahun 1975 minat teoritis berkembang didalam sosiologi semakin meningkat baik konsep, pemikiran, dan sebagainya. Pada tahun 1940 an akhir pencetus etnometodologi Garfinkel menemukan karya tersebut  namun tidak saat iitu langsung bisa disahkan. Pada tahun 1968 baru disahkan dan ditemukan beberapa tokoh pengkritik teori.


     

Sumber: Ritzer George, Teori Sosiologi; dari klasik sampai perkembangan terakhir posmoderent, Yogjakarta: Pusat pelajar. 2012.  

Public Speaking Class

 Penulis:

1. Ineliyant Intan Ayu

2. Vina Khasanah N.

3. Budi Hidayatullah


     Selasa, 16 Maret 2021 pukul 19:00-21:00 Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama mengadakan kegiatan public speaking class dengan tema Meningkatkan Kepercayaan Diri Cermin Leadership yang di pantik oleh Achmad Nur Kholis (Mahasiswa Universitas Sebelas Maret) dan di moderatori oleh Nurul Arifah (Mahasiswi IAIN Tulungagung). Kelas public speaking ini dilakukan secara virtual dirumah masing-masing menggunakan apps zoom.

     Dalam pembahasan pertama mengenai public speaking yaitu kegiatan penyampaian pesan berupa ide atau gagasan secara oral atau lisan, public speaking merupakan bentuk komunikasi dimana seorang pembicara menghadapi pendengar dalam jumlah yang relatif besar dan pembicara relatif kontinu. Dalam hal ini jika dikaitkan dengan mahasiswa sosiologi memiliki cukup banyak manfaat salah satunya tentang bagaimana mahasiswa sosiologi dapat berinteraksi dengan masyarakat secara mudah dalam menyampaikan apa yang ingin dijelaskan sehingga pendengar atau masyarakat dapat memahami ungkapannya secara jelas.


     Kesadaran pentingnya public speaking dikenali dalam peradaban manusia sejak berabad-abad. Sejarah mencatat bahwa public speaking telah dilakukan di Yunani dan romawi kuno. Aristoteles mengatakan bahwa retorika atau public speaking sebagai filsafat, sedangkan tokoh yang lain menekankan sebagai seni. Menurut Aristoteles tujuan public speaking adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktian.


     Pada saat ini public speaking tidak hanya dilihat pada seni saja melainkan terfokus sebagai pengetahuan yang harus dipelajari untuk mencapai efektivitas pesan yang maksimal. Public speaking penting dipelajari karena sejarah membuktikan bahwa berbicara dapat digunakan untuk keperluan politis, sosial, dan psikologis.


     Setelah pemateri menjelaskan pentingnya skil publik speaking untuk jurusan SA. Tentu untuk melatih skill publik speaking banyak yang harus dipelajari seperti artikulasi, pemilihan kata, volume dll. Memberikan arahan memberikan arahan apa saja yang harus dipersiapkan ketika menghadapi demam panggung saat akan melakukan public speaking pertama melakukan latihan sebelum acara dimulai kedua mencari pengalamannya dan yang terpenting adalah dengan menganggap jika demam panggung adalah hal yang lumrah terjadi pada diri seseorang. Kita juga harus mempunyai dorongan dari diri kita sendiri agar kita bisa melakukan here tersebu. Selain itu juga bisa digunakan bahan untuk melakukan penelitian, riset, dan uji coba lapangan.


    Selesai pemateri memaparkan tentang public speaking para audiens sangat antusias. Ketika sesi ditanya jawab berlangsung banyak yang mengajukan pertanyaan serta memberikan kritik dan saran yang positif yang sangat membangun untuk kegiatan kedepannya.


    Setelah tanya jawab selesai peserta juga sangat puas dengan penjelasan yang diberikan oleh pemateri sehingga untuk mejadi moderator dan acara resmi lain dan bisa percaya diri. Disini juga kita semua di ajari gimana menjadi pembawa acara yang baik dan benar sehingga dalam acara atau even kita tidak gemetar dan lain sebagainya.


     Sehingga para peserta publik speaking kini bisa menjadi mahasiswa mandiri dan bijaksana berani menampilkan diri didepan semua orang dalam acara resmi dan juga non resmi.


Daftar Pustaka

Hendriyani, Yohana Purnama Dharmawan. Modul pengantar public speaking.

Rajiyem. 2 Juni 2005. Sejarah dan Perkembangan Retorika. Humaniora, vol 17.


Teori Interaksionalisme Simbolik

Penulis : Meilya Eka Herlina

     Jumat,12 Maret pukul 19.00-21.00 Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring secara mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “INTERAKSIONALISME SIMBOLIK” yang dipantik oleh Nikmatul Laili Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan ditemani oleh moderator Putri Cahyaningrum Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Dan diskusi ini dilakukan secara virtual di rumah masing-masing melalui WhatsApp Group.

    Tema pertemuan kali ini membahas tentang suatu Gambaran dari Interaksionalisme Simbolik seperti, akar histori utama interaksionalisme simbolik, tokoh-tokoh, Ide-ide George Herbert Mead, Prinsip-prinsip dasar Blumer, dan teori Horton Cooley tentang diri kaca.

    Interaksionalisme Simbolik merupakan,suatu teori yang didasarkan pada ide-ide tentang individu dan interaksinya dengan masyarakat. Esensinya yaitu suatu aktivitas yang merupakan ciri manusia, yaitu: Komunikasi, atau pertukaran simbol yang diberi makna. Menurut teori Interaksionalisme Simbolik “kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi yang menggunakan simbol-simbol untuk menunjukkan apa yang mereka maksud dengan tujuan untuk berkomunikasi. Dan akar histori utama interaksionalisme simbolik ada dua yaitu Filsafat pragmatism dan Behaviorisme psikologis.

    Pertama, Pragmatisme tokoh pelopornya yaitu George Herbert Mead ia adalah salah satu pelopor di dalam Filsafat Pragmatisme yang dinamakan pragmatism adalah menekankan hubungan yang sangat erat antara pengetahuan serta tindakan untuk mengatasi masalah sosial..Pragmatism berasal dari kata “Pragma” berasal dari Bahasa Yunani yang berarti tindakan, perbuatan, atau perilaku. Titik tekan pada pandangan pragmatism ini adalah nilai kemanfaatan, sehingga sesuatu tersebut dianggap memiliki standar kebenaran jika ia mempunyai suatu aspek atau nilai kemanfaaatan.

    Kedua, Behaviorisme pandangan dari suatu teori Behaviorisme ini adalah bahwa perilaku individu merupakan sesuatu yang dapat diamati,maksudnya adalah mempelajari suatu tingkah laku manusia secara obyektif dari uar, serta dari perilaku yang mendatangkan respon, tanpa melibatkan mental tersembunyi.

    Interaksionalisme Simbolik terdapat beberapa tokoh yang berperan aktif dan bersumbahsih melalui ide serta pemikirannya untuk mengembangkan interkasionalisme simbolik yakni, George Herbert Mead, Charles Horton Cooley, WI Thomas, Herbert Blumer, Dan Erving Goffman. Dari salah satu tokoh yang ikut andil dan berperan aktif yakni George Herbert Mead yang merupakan penggagas teori Interaksionalisme Simboliki dengan pemikiran dan idenya yaitu Prioritas sosial, Tindakan, Impuls, Persepsi, Manipulasi, Konsumsi, Gestur, Simbol, Mind (Pikiran), Self (Diri).

    Selanjutnya terdapat Prisip-prinsip dasar Blumer yaitu Pertama, Manusia bertindak atas sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. Kedua, Makna itu diperoleh dari interkasionisme sosial yang dilakukan dengan orang lain. Ketiga, Makna-makna tersebut disempurnakan dalam interaksionisme simbolik sosial yang sedang berlangsung.

    Dan yang terakhir membahas tentang Teori Horton Cooley tentang diri kaca yaitu Pertama, Seseorang membayangkan bagaimana suatu perilaku atau tindakannya tampak di mata orang lain. Kedua, Seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai tindakan atau perilaku tersebut. Ketiga, Seseorang membangun konsepsi tentang diri sendiri berdasarkan penilaian dari orang lain terhadap dirinya.

Referensi:

Ejournal.stp.ipnae.id.index.php.perspektif.article.download.PakarKomunikasi.com.Teori Interaksi Simbolik

Teori Konflik

 Penulis: Evania Fidyawati

     

     Jumat, 26 Februari 2021 pukul 19.00-21.00 Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Teori Konflik” yang dipantik oleh Ayom Puspa Ariani Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan ditemani oleh moderator yaitu Ineliyant Intan Ayu Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Diskusi ini dilakukan secara virtual dirumah masing-masing dengan menggunakan WhatsApp Group.

    Tema diskusi pada kali ini membahas tentang pengertian dari teori konflik, asumsi dasar teori konflik, tokoh-tokoh dari teori konflik, fungsi-fungsi dan manajemen dari teori konflik. Teori sendiri yaitu seperangkat pernyataan yang secara sistematis berhubungan atau sering dikatakan bahwa teori adalah sekumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang saling berkaitan yang menghadirkan suatu tinjauan sistematis atas fenomena yang ada dengan menunjukkan hubungan yang khas diantara variabel-variabel dengan maksud memberikan eksplorasi dan prediksi. 

    Konflik secara etimologis yaitu pertengkaran, perkelahian, dan perselisihan tentang pendapat, keinginan, atau perbedaan. Jika disimpulkan teori konflik adalah beberapa teori atau sekumpulan teori yang menjelaskan tentang peranan konflik, terutama antara kelompok-kelompok dan kelas-kelas dalam kehidupan sosial masyarakat. Teori konflik ini muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. 

    Pemikiran dasar dari teori ini adalah pemikiran dari Karl Marx pada tahun 1950-an dan 1960-an. Teori konflik juga menyediakan alternatif bagi teori struktural fungsional. Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya, Marx tidak mendefinisikan kelas secara rumit tetapi dia menunjukkan bahwa pada abad ke-19 di Eropa dimana dia hidup terdiri dari kelas pemilik modal atau barjuis dan kelas pekerja miskin atau ploreta. 

    Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional karena teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan, karena dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik atau ketegangan di dalam masyarakat. 

Tokoh teori konflik terbagi menjadi dua fase bagian yaitu teori dari tokoh sosiologi klasik dan teori dari tokoh sosiologi modern. Tokoh dari sosiologi klasik yaitu, Polybus, Ibnu Khaldun, Nicolo Machiavelli, Jean Bodin, Thomas Hobbes. Sedangkan tokoh dari sosiologi modern yaitu, Karl Marx, Lewis A. Coser, Ralf Dahrendorf

    Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi yang termasuk tingkah laku dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan interests dan interpretasi.

    Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga yang diperlakukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga. Bagi pihak luar atau orang yang ada di luar konflik sebagai pihak ketiga memerlukan informasi yang akurat tentang situasi konflik karena komunikasi efektif diantara pelaku dapat terjadi kepercayaan jika terdapat pihak ketiga. Menurut Rose bahwa memanajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil oleh pihak ketiga dari perselisihan kearah hasil tertentu yang menghasilkan ketenangan hal positif, kreatif, permufakatan, atau agresif

    Teori konflik tidak hanya berdampak negatif tetapi melainkan ada juga dampak positif yang dapat diambil seperti fungsi konflik menurut Lewis A.Coser yaitu : pertama, Konflik dapat membantu mengeratkan ikatan kelompok yang berstruktur secara longgar. Kedua, Konflik dapat membantu menciptakan kohesi melalui aliansi dengan kelompok lain. Ketiga, Konflik dapat membantu mengaktifkan peran individu yang semula terisolasi. Keempat, Konflik juga dapat membantu fungsi komunikasi

    Konflik dapat berdampak positif juga dengan bagaimana cara kita menyikapi atau memanagemen konflik tersebut. Konflik bermakna sebagai pertentangan secara terbuka antara individu-individu, masyarakat-masyarakat, dan bangsa-bangsa. Seperti contoh yang terjadi di beberapa negara yaitu konflik antara beberapa negara biasanya disebabkan dengan hubungan antara negara Yahudi dan Islam dikalangan warga dunia yang menjadikan sensitif.

    Jika terjadi suatu konflik di masyarakat yang berdampak pada stratifikasi sosial atau biasanya disebut perbedaan posisi sosial individu masyarakat dapat terselesaikan dengan teori negosiasi. Teori negosiasi prinsip menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan dengan konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik.

    Jadi solusinya adalah membantu pihak yang berkonflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan isu serta mampu melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka dengan posisi yang sudah tetap dan melancarkan keuntungan dari kedua belah pihak. Jika teori negosiasi tidak berjalan dengan baik maka akan terjadi suatu situasi ketimpangan, di dalam ketimpangan tersebut dapat diselesaikan dengan teori teori konflik selanjutnya yaitu teori hidentitas. Teori hidentitas berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam yang menghilangnya sesuatu yang tidak diselesaikan dari teori negosiasi yang terjadi sebelumnya. 



Referensi: 

Aniek Rahmaniah,TEORI KONFLIK: RALF DAHRENDORF. 

Ikrom, Konflik Prita Vs Omni Pembacaan Teori DAHRENDORF The Dealektical Conflict Theory, Semarang: IAIN Walisongo Semarang, 2011 Vol 03, No 02. 

Mas’udi, AKAR-AKAR TEORI KONFLIK: Dialektika Konflik; Core Perubahan Sosial dalam Pandangan Karl Marx dan George Simmel, Kudus: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus, 2015, VOL 03, NO 01. 

M. Wahid Nur Tualeka, TEORI KONFLIK SOSIOLOGI KLASIK DAN MODERN, Surabaya: Universitas Muhammadiyah, 2017, Vol 3, No 1. 

Saturday, February 27, 2021

Neofungsionalisme

  Jumat, 19 Februari 2021 pukul 19.00-21.00 Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Neofungsionalisme Struktural” yang dipantik oleh Gusti Ramahda Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulunggagung dan ditemani oleh moderator Defi Tri Astuti Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulunggagung. Diskusi ini dilakukan secara virtual di rumah masing-masing melalui WhatsApp Grup.

Tema kali ini membahas tentang Gambaran Neofungsionalisme, Orientasi dasar, Perspektif pemikiran tokoh, Topik permasalahan. Neofungsionalisme merupakan rekonstruksi dari teori fungsionalisme struktural dengan tujuan dapat membangkitkan kembali dan memberikan dasar untuk pengembangan tradisi teoritis yang baru. Teori ini muncul karena adanya kritik dari fungsionalisme struktural sedangkan neofungsionalisme digunakan untuk menandai kelangsungan hidup tetapi juga sekaligus menunjukkan bahwa sedang dilakukan upaya memperluas dan mengatasi kesulitan  utamanya. 

Jeffrey Alexander dan Paul Colomy menyebutkan bahwa neofungsionalisme sebagai rangkaian kritik diri teori fungsional yang mencoba memperluas cakupan intelektual fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya (1985). Fungsionalisme dibawa oleh Emile Durkheim yang dikembangkan ke Amerika pada pasca perang dunia bergejolak yang dimana pemerintah mencari sosiolog ternama dengan pendekatan pendekatan  mayarakat.

Menurut perspektif dari Alexander bahwa orientasi dibagi menjadi enam yaitu; Pertama, neofungsionalisme bekerja dengan model masyarakat deskriptif. Kedua, neofungsionalisme memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan dan keteraturan. Ketiga, neofungsionalisme tetap memperhatikan masalah integritas, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai kemungkinan sosial. Keempat, neofungsionalisme tetap menerima penekanan personalisasi tradisional atas kepribadian, kultur, dan sistem sosial. Kelima, neofungsionalisme memusatkan perhatian pada perubahan sosial dalam proses diferensiasi didalam sistem sosial, kultural, dan kepribadian. Keenam, neofungsionalisme secara tidak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam konseptualisasi dan menyusun teori berdasarkan analisis sosiologi pada tingkat lain. 

Secara umum terdapat  orientasi dasar Neofungsionalisme Struktural  yaitu; Pertama, dijalankan dengan suatu model deskripsi memandang masyarakat sebagai kesatuan elemen yang berinteraksi satu dengan yang lainnya. Kedua, mencurahkan perhatian yang sama pada aksi dan order. Ketiga, mempertahankan kepentingan stuktur fungsionalisme dalam integrasi bukan hanya sebagai fakta sosial  melainkan sebagai sosial possibility.

Pernyataan mengenai teori neofungsionalisme yang bersangkutan dengan fungsionalisme struktural bahwa lahirnya teori neofungsionalisme merupakan kritik terhadap struktur fungsionalisme yang dianggap terlalu menekankan pada masyarakat manusia yang bersifat harmoni, stabil, dan terintegrasi dengan baik. Karena penekanan yang berlebihan kepada harmoni dan stabilitas maka neofungsionalisme cenderung mengabaikan potensi konflik sosial. Maka fungsionalisme mengarah pada bias konfervatif dalam kehidupan sosial yakni cenderung mempertahankan segala yang ada dalam masyarakat. 

Teori neofungsionalisme terdapat perbedaan diksi karena dapat dilihat dalam buku teori sosial kontemporer yang membahas tentang fungsionalisme ataupun neofungsionalsme lahir karena yang menguatkan ataupun sebagai pondasi dasar adanya kelemahan teori fungsionalisme strukural dan timbulnya masalah. Terdapat stigma yang menggap bahwa teori neofungsionalisme tidak bisa booming di kalangan profesor sosiolog terkemuka karena sebagai alian-alian isu tentang teori neoungsionalisme, pada zaman Emile Durkheim menganggap teori ini hanya sebagai isu saja.

Pemikiran Alexander dan Colomy mengindikasikan pergeseran menjauh dan tendesi parsonsian untuk melihat fungsionalisme stuktural sebagai teori besar. Sebaliknya, mereka menawarkan teori yang lebih terbatas dan sintesis, namun tetap holistik. Akan tetapi seperti ditunjukan pada awal abad ini, masa depan neofungsionlisme diragukan karena fakta bahwa pendiri dan eksponen utamanya kurang dikenal ataupun teori besar yang dibawa oleh Emile Durkheim. Neofungsionalisme muncul ketika beredar sebuah isu atau permasalahan kulit hitam di Amerika, perang dunia kedua lalu pada waktu itulah para sosiolog dikumpulkan.

 Fungsionalisme cenderung  mengabaikan potensi konflik sosial yang merupakan ciri dasar dari kebanyakan masyarakat. Dengan mengabaikan konflik sosial dan mengedepankan harmoni dalam masyarakat, maka fungsionalis mengarah pada bias konservatif dalam kehidupan sosial, yakni cenderung mempertahankan segala yang ada dalam masyarakat. Masyarakat yang dikaji hanya tertuju pada satu pada satu masa tertentu saja, sehingga mengabaikan dimensi historis dalam mengkaji kehidupan masyarakat. Akibatnya, sangat sulit menjelaskan perubahan sosial dalam konteks prespektif materialis dan prespektif konflik.

Dalam Neofungsionalisme menggunakan istilah action dan order sebagai istilah lain dari agency dan struktur. Alexander mengemukakan bahwa terdapat keseimbangan antara aksi dan order. Isu utama dalam teori aksi adalah apakah aksi diterima secara rasional atau tidak. Alexsander memberikan makna rasionalisme sebagai aksi untuk mecapai tujuan normative yang lebih luas dalam perilaku manusia. Adapun permasalahan Order adalah bagaimana pola penempatan unit individu pada struktur sosial non-random dengan segala motifnya.

Perbedaan teori Neofungsioanlisme dengan Fungsionalisme struktural ialah dapat dilihat melalui pandangan antara dua teori yakni teori fungsionalisme lebih ke statis dan tidak berubah, sedangkan neofungsioanalisme lebih kepada kehidupan masyarakat yang dinamis dan cakupan ilmu teori yang lebih luas pada konflik yang ada di masyarakat.

Awal teori neofungsionalisme muncul untuk mengatasi permasalahan yang tidak bisa diselesaikan fungsionalisme struktural, solusi yang ditawarkan teori neofungsionalisme berhasil menyelesaikan masalah dari fungsionaisme seperti konflik, konservatisme. Namun  teori neofungsionalisme muncul bukan untuk mengatasi permasalahan yang tidak bisa diselesaikan pada fungsionalisme struktural karena ini terjadi penurun dasar dan teori yang cenderung mengabaikan potensi konflik sosial yang merupakan ciri dasar dari kebanyakan masyarakat. Fungsionalisme struktural tidak bisa dikatakan mengabaikan konflik ynag ada dalam masyarakat karena pada kenyataanya justru lebih dekat dengan masyarakat mengenai struktur sosial, fungsi sosial bisa diterapkan dalam masyarakat meski secara garis besar fungsionalisme struktural mempertahankan keteraturan yang ada dalam masyarakat.

Permasalahan order adalah bagaimana pola penempatan unit individu pada struktur sosial non-random dengan segala motifnya, hal itu merupakan orientasi dasar neofungsionalisme “mencurahkan perhatian yang sama pada aksi dan order.” Hal ini menghindari kecenderungan fungsionalisme yang hanya mengacu pada order level makro. Neofungsionalise juga memberikan pengertian yang luas bukan hanya bersifat rasional melainkan juga aksi ekspresif, level makro itu memberikan pengertian yang luas pada teori neofungsionalisme bukan hanya sudut pandang  yang kecil.

Kelemahan dan kelebihan dari diterapkannya neofungsionalisme dalam kehidupan dapat dilihat pada kelemahannya cenderung pada obyek dari neofungsionalisme cakupannya luas bukan hanya bersifat rasional melainkan juga aski ekspresif.  Kelebihannya dapat dilihat dari mempelajari teori yang bersifat terbuka. Dalam buku George Ritzer tentang teori sosoiolgi bahwa neofungsionalisme menghindari tendensi fungsionalisme struktural yang nyaris secara eksklusif fokus pada sumber-sumber ketertiban level makro didalam struktur sosial dan kebudayaan dan tidak banyak memerhatikan pola-pola tindakan yang lebih berlevel mikro (Schwinn, 1998).

Referensi: 

Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Paradigma (Fakta Sosial, Definisi Sosial, Dan Perilaku Sosial), Jakarta: Kencana, 2012.

Rahma Sugiharti, Perkembangan Masyarakat Informasi Dan Teori  Sosial Kontemporer, Jakarta: Kencana, 2014


Penulis : Defi Tri Astuti


Fungsionalisme Struktural Sebagai Pedoman Kajian Sistem di Masyarakat

    Jum’at, 12 Februari 2021 pukul 19.00-21.00 Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Fungsionalisme Struktural” yang dipantik oleh Estu Farida Lestari Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan di temani oleh moderator Evania Fidyawati Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Diskusi ini dilakukan secara virtual di rumah masing-masing melalui WhatsApp Grup.

    Tema kali ini membahas tentang sejarah fungsionalisme, gambaran pencetus Teori Fungsional Struktural, hal-hal yang menjadi syarat mutlak berfungsinya masyarakat, asumsi dasar konflik, konsep fungsi sistem sosial, dan empat komponen penggunaan imperatif fungsional.

    Struktural-fungsionalisme  lahir sebagai reaksi terhadap teori evolusionari. Jika tujuan dari kajian evolusionari  adalah untuk membangun tingkat-tingkat  perkembangan  budaya manusia, maka tujuan dari kajian struktural-fungsionalisme adalah untuk membangun suatu sistem sosial, atau struktur sosial. Teori ini telah merajai kajian antropologi-sosiologi di dunia barat, sehingga King Los Davis berani mengatakan bahwa struktural fungsioanalisme sama rata dengan antropologi-sosiologi. Di Inggris teori ini mencapai puncak pada tahun 1930-1950. Pelopor yang terkenal pada masa itu ialah Rad-cliffe-Brown dan Malinos que, setelah pengetahuan ini berkembang dengan baik di Inggris yang dikenalkan oleh dua tokoh tersebut melalui pendekatan yang di bawa ke Amerika dan diperkenalkan ke jurusan Sosiologi-Antropologi Chicago University.

    Selain itu ada dua pengikut yaitu Fried Eghent dan Redfiell. Pada tahun 1950 mengalami puncak kejayaan, teori ini di kembangkan oleh Talcot Person beliau mampu mengubahnya secara canggih dan mengemas secara kompleks. Namun Talcot Person tidak bisa disebut sebagai pencetus karena sebelumnya sudah di publikasikan oleh R-B. Selang beberapa tahun kemudian teori ini mendapati banyak kritikan sebab munculnya teori baru di Sosiologi. Asumsi dasar dari teori fungsionalisme struktural ialah paham perspektif dalam sosiologi memandang masyarakat sebagai satu sistem yang saling berhubungan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan mengakibatkan ketidakseimbangan seperti halnya terdapat problematika masyarakat. Terjalinnya relasi baik antara masyarakat satu dengan yang lain, maka konflik yang timbul di tengah masyarakat sangat terbatas. Dilingkup kemasyarakatan terdapat kasta atau stratifikasi berupa struktur perangkat desa yang mengatur tatanan dalam masyarakat.

    Terdapat empat syarat mutlak untuk dikatakan masyarakat bisa berfungsi dengan seksama  antara lain; pertama, Adaptasi merupakan sebuah sistem yang menanggulangi situasi eksternal dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sesuai kebutuhannya. Kedua, Pencapaian tujuan merupakan sebuah sistem yang harus mendefinisikan untuk mencapai tujuan utama. Dalam tatanan hidup masyarakat tentu memiliki tujuan yakni mencapai kemakmuran bersama, mencapai kehidupan harmonis. Ketiga, Integrasi merupakan sebuah sitem yang mengatur bagian komponen hidup. Sistem ini harus berkaitan atas tiga fungsi penting lainnya. Sebuah masyarakat dapat dikatakan berfungsi sempurna jika bisa mengatur dan mengolah kinerja dengan baik. Keempat, Pemeliharaan pola merupakan sebuah sistem yang mengatur segala hal dalam masyarakat bisa berjalan dengan baik, jika ada keteraturan dalam kultur yang dapat merubah pola fikir dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan yang membuat mereka semakin aktif dan tidak pasif.

    Parson memperkenalkan dua konsep yang berkenaan dengan sistem sosial yaitu konsep fungsi dan konsep pemeliharaan keseimbangan. Kedua konsep ini saling berkesinambungan karena ketika masyarakat mampu menjalankan fungsinya dengan baik maka konflik yang timbul dalam masyarakat sangat minim. Bagaimana agar masyarakat tetap bisa dianggap berfungsi? Salah satunya lewat konsep pemeliharaan keseimbangan, perlu mempertahankan aturan yang sudah di selenggarakan. Menurut teori R-B bahwa “sebuah masyarakat disamakan dengan teori biologis sebagai perumpamaannya manusia mmiliki sel-sel, jaringan yang ada dalam tubuh tersebut”.

    Beberapa sistem sosial yang ada dalam masyarakat yakni sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan dan organisasi sosial, bahasa, sistem kepercayaan. Selain itu terdapat empat komponen dalam penggunaan imperial fungsional, pertama, sistem tindakan, menurut person terdapat enam lingkungan sistem yang mendorong manusia untuk bertindak yaitu realitas hakiki, sistem kultural, sistem sosial, sistem kepribadian, organisme behavoria, dan adanya lingkungan fisik organik. Parson mengintegrasikan sistem dalam dua aspek tinggi dan rendah. Setiap level yang rendah menyediakan syarat energi dibutuhkan dalam level tinggi dan level tinggi mengontrol level yang hierarki berada dibawahnya dalam lingkungan sistem tindakan level terendah adalah lingkungan fisik dan organik yang terdiri dari unsur-unsur tubuh manusia, anatomi, dan fisiologi bersifat non simbolis 

    Dalam level tertinggi ialah realitas hakiki yang meliputi Sistem sosial, menurut person sistem sosial ialah sistem yang terdiri dari berbagai aktor individual yang berinteraksi satu sama lain dalam aspek lingkungan. Sistem kultural, menurut person kebudayaan merupakan kekuatan utama yang mengikat sistem tindakan. Hal ini disebabkan karena dalam kebudayaan terdapat norma dan nilai yang harus ditaati oleh individu untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem kepribadian, pandangan Person adalah kendati konteks utama struktur kepribadian berasal dari sistem sosial dan kebudayaan melalui sosialisasi. Kepribadian menjadi sistem independent berhubungan dengan organisme itu sendiri. Kepribadian adalah sistem motivasi yang ada dalam diri individu mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan disposisi

    Dalam analisis sistem fungsional Person menguraikan sejumlah persyaratan bagi sistem sosial adalah Sistem sosial harus terstruktur agar dapat beroperasi dengan sistem lain, sistem sosial harus didukung agar tetap bertahan, sistem harus signifikan memenuhi kebutuhan masyarakat, sistem sosial harus menimbulkan partisipasi memadai dari anggota, sistem harus memiliki kontrol minimum terhadap perilaku yang berpotensi merusak dan konflik yang menimbulkan kerusakan harus dikontrol. 

Referensi: 

Jurnal Antropologi No. 52, Universitas Indonesia, dan Jurnal digilib.uinsby.ac.id


Penulis: Defi Tri Astuti

Thursday, October 15, 2020

Formad daring : Sosiologi Klasik " Emile Durkheim"

 Jum'at, 09 Oktober  2020 pukul 19.00-selesai, di rumah masing-masing via WhatsApp Grub. Himpunan Mahasiswa Jurusan ( HMJ ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Sosiologi Klasik: Emile Durkheim” yang di pantik oleh Siti Mariyam  jurusan Sosiologi Agama angkatan 2019-2020 dan ditemani moderator Estu Farida Lestari jurusan Sosiologi Agama angakatan 2019-2020.

Tema kali ini yang mengkaji teori-teori klasik dari Emile Durkheim lanjutan dari diskusi sebelumnya. Via whatsapp grub moderator sebagai pemimpin jalannya diskusi, pemantik memaparkan empat teori yang dikaji oleh Emile Durkheim yakni Teori fakta sosial, solidaritas, religius, dan bunuh diri. Pertama pemantik sedikit mengulas biografi Durkheim. 

Emile Durkheim lahir pada15 April 1858, di Epinal Prancis.  Durkheim lahir dari keturunan para Rabi  "kiyai" ia dikenal dengan Sosiolog Modern pada pertengahan abad klasik modern.  Pemikiran Durkheim dipengaruhi oleh Auguste Comte, Aristoteles, Imanunel Kant, Rene Descrates, dan Hearbert Speancer. karya populer Emile Durkheim Meliputu,  The Division of Labor in Society (1893), The Rules of Sociological Methot (1895), Suicide (1897),  The Elementary Froms of Religious Life (1912). 

Selanjutnya kepembahasan pemikiran dan teori yang dikaji oleh Durkeim 

Fakta Sosial, Menurut Emile Durkheim, fakta-fakta sosial adalah Cara bertindak, yang berpengaruh pada diri individu, seluruh cara bertindak yang umum dipakai di masyarakat dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari menifestasi-menifestasi individual. Yang berhubungan dengan gejala sosial seperti aturan legal, moral, bahasa, dsb). 

Fakta sosial ini digolongkan menjadi dua yaitu: Material:  Secara Nyata, contoh Intruksi pembangunan. Dan Nonmaterial:Tidak nyata atau abstrak, contoh oponi.  Moralitas, nurani kolektif (Yang melekat pada hati),  representasi kolektif (simbol agamis, mitos)  dan arus sosial.     

Solidaritas, Durkheim mengklasifikasikan solidaritas menjadi dua tipe yakni solidaritas meknis dan organik.  Solidaritas mekanis: masyarakat pedesaan. Cirinya,  bersatu dan gotong royong. Solidaritas Organik: masyarakat perkotaan. Cirinya, kepentingan berbeda, dan bersifat individual.   

Religius, Emile Durkheim juga sering dikenal sebagai tokoh sosiologi yang religius. Menurut Durkheim "agama adalah sebagai identitas" Teori Agama sakral dan profan. Profan: aktivitas sehari-hari. Seperti ibadah atau aktivitas religius  yang kita lakukan setiap hari.   sakral: Sesuatu yang dianggap suci, aktivitas yang dilakukan diwaktu-waktu tetentu. Menurut Durkheim, sakral diciptakan melalui ritual-ritual yang menggunakan kekuatan moral masyarakat kedalam simbol agamis yang mengikat para individu dan kelompok.

Suicide (bunuh diri) Alasan Durkheim memilih untuk mempelajari teori bunuh diri adalah karena suatu fenomena yang relatif konkret dan spesifik yang memiliki data agak baik. 

Empat tipe tahapan bunuh diri:

Bunuh diri Egoistik, erdasarkan integrasi yaitu rasa integrasi atau solidaritas terendah. 

Bunuh diri Altruistik, Berdasarkan integrasi tinggi atau integrasi sosial terlalu kuat.

Bunuh diri Anomik, Berdasarkan regulasi rendah. 

Bunuh diri fatalistik,  Berdasarkan regulasi tinggi. Bunuh diri fantastik ini lebih mungkin terjadi ketika regulasi terlalu berlebihan. 

Dari keempat teori yang dikaji oleh Durkheim dalam diskusi kali ini yang paling menarik dari pandangan audiens ialah teori bunuh diri, pembahasa meluas mengenai teori suicide tersebut. Moderator melanjutkan diskusi dengan sesi tanya jawab yang akurat hingga diskusi berjalan dengan baik hingga akhir.  


Penulis: Siti Mariyam