event

MUSYAWARAH TAHUNAN JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG ANGKATAN 2018

MALIKA FC

TIM UTAMA FUTSAL SOSIOLOGI AGAMA IAIN TULUNGAGUNG "MALIKA FC"

event

pacitan

SAVE PACITAN

kegiatan bakti sosial bersama LTNU di Pacitan, dengan agenda trauma hearing

Sosiologi Agama adalah salah satu program studi di lingkungan IAIN Tulungagung.yang bernaung di bawah Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD). SALAM SATU WARNA

Thursday, October 15, 2020

Formad daring : Sosiologi Klasik " Emile Durkheim"

 Jum'at, 09 Oktober  2020 pukul 19.00-selesai, di rumah masing-masing via WhatsApp Grub. Himpunan Mahasiswa Jurusan ( HMJ ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Sosiologi Klasik: Emile Durkheim” yang di pantik oleh Siti Mariyam  jurusan Sosiologi Agama angkatan 2019-2020 dan ditemani moderator Estu Farida Lestari jurusan Sosiologi Agama angakatan 2019-2020.

Tema kali ini yang mengkaji teori-teori klasik dari Emile Durkheim lanjutan dari diskusi sebelumnya. Via whatsapp grub moderator sebagai pemimpin jalannya diskusi, pemantik memaparkan empat teori yang dikaji oleh Emile Durkheim yakni Teori fakta sosial, solidaritas, religius, dan bunuh diri. Pertama pemantik sedikit mengulas biografi Durkheim. 

Emile Durkheim lahir pada15 April 1858, di Epinal Prancis.  Durkheim lahir dari keturunan para Rabi  "kiyai" ia dikenal dengan Sosiolog Modern pada pertengahan abad klasik modern.  Pemikiran Durkheim dipengaruhi oleh Auguste Comte, Aristoteles, Imanunel Kant, Rene Descrates, dan Hearbert Speancer. karya populer Emile Durkheim Meliputu,  The Division of Labor in Society (1893), The Rules of Sociological Methot (1895), Suicide (1897),  The Elementary Froms of Religious Life (1912). 

Selanjutnya kepembahasan pemikiran dan teori yang dikaji oleh Durkeim 

Fakta Sosial, Menurut Emile Durkheim, fakta-fakta sosial adalah Cara bertindak, yang berpengaruh pada diri individu, seluruh cara bertindak yang umum dipakai di masyarakat dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari menifestasi-menifestasi individual. Yang berhubungan dengan gejala sosial seperti aturan legal, moral, bahasa, dsb). 

Fakta sosial ini digolongkan menjadi dua yaitu: Material:  Secara Nyata, contoh Intruksi pembangunan. Dan Nonmaterial:Tidak nyata atau abstrak, contoh oponi.  Moralitas, nurani kolektif (Yang melekat pada hati),  representasi kolektif (simbol agamis, mitos)  dan arus sosial.     

Solidaritas, Durkheim mengklasifikasikan solidaritas menjadi dua tipe yakni solidaritas meknis dan organik.  Solidaritas mekanis: masyarakat pedesaan. Cirinya,  bersatu dan gotong royong. Solidaritas Organik: masyarakat perkotaan. Cirinya, kepentingan berbeda, dan bersifat individual.   

Religius, Emile Durkheim juga sering dikenal sebagai tokoh sosiologi yang religius. Menurut Durkheim "agama adalah sebagai identitas" Teori Agama sakral dan profan. Profan: aktivitas sehari-hari. Seperti ibadah atau aktivitas religius  yang kita lakukan setiap hari.   sakral: Sesuatu yang dianggap suci, aktivitas yang dilakukan diwaktu-waktu tetentu. Menurut Durkheim, sakral diciptakan melalui ritual-ritual yang menggunakan kekuatan moral masyarakat kedalam simbol agamis yang mengikat para individu dan kelompok.

Suicide (bunuh diri) Alasan Durkheim memilih untuk mempelajari teori bunuh diri adalah karena suatu fenomena yang relatif konkret dan spesifik yang memiliki data agak baik. 

Empat tipe tahapan bunuh diri:

Bunuh diri Egoistik, erdasarkan integrasi yaitu rasa integrasi atau solidaritas terendah. 

Bunuh diri Altruistik, Berdasarkan integrasi tinggi atau integrasi sosial terlalu kuat.

Bunuh diri Anomik, Berdasarkan regulasi rendah. 

Bunuh diri fatalistik,  Berdasarkan regulasi tinggi. Bunuh diri fantastik ini lebih mungkin terjadi ketika regulasi terlalu berlebihan. 

Dari keempat teori yang dikaji oleh Durkheim dalam diskusi kali ini yang paling menarik dari pandangan audiens ialah teori bunuh diri, pembahasa meluas mengenai teori suicide tersebut. Moderator melanjutkan diskusi dengan sesi tanya jawab yang akurat hingga diskusi berjalan dengan baik hingga akhir.  


Penulis: Siti Mariyam


Formad daring: Sosiologi Klasik "August Comte"

 Jum'at, 02 Oktober  2020 pukul 19.00-selesai, di rumah masing-masing via WhatsApp Grub. Himpunan Mahasiswa Jurusan ( HMJ ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Sosiologi Klasik: Auguste Comte” yang di temai oleh Yulia Novita Hanum  jurusan Sosiologi Agama angkatan 2019-2020 dan ditemani moderator Nikmatul Laili jurusan Sosiologi Agama angakatan 2019-2020.

Pertama pemantik memaparkan mengenai biografi Comte,  Auguste Comte lahir pada 1798 di Montpellier, kota di selatan Perancis yang menjadi salah satu pusat gerakan resistensi terhadap revolusi Perancis. Comte lahir di keluarga borjuis Katolik yang taat. Namun, masa kecilnya penuh dengan kenangan pahit disebabkan oleh kekacauan periode Revolusi Perancis. Comte dikenal sebagai bapak positivisme dan juga dianggap sebagai orang pertama yang mencetuskan istilah sosiologi sebagai ilmu pengetahuan modern yang mempelajari aspek sosial dari kehidupan manusia. Comte adalah tokoh sosiologi klasik awal. Ideologi positivisme Comte mengusung keyakinan bahwa masyarakat dapat dipahami sesuai dengan hukum-hukum ilmu alam.

Selanjutnya pembahasan mengenai pemikiran yang di dalamnya membahas Positivisme Auguste Comte. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam. Tiga tahap dalam positivism:

1. Tahap teologis. Tingkat pemikiran manusia beranggapan bahwa benda didunia mempunyai jiwa dan disebabkan oleh suatu kekuatan diatas manusia / kekuatan dewa / gaib.

2. Tahap metafisis Manusia percaya bahwa gejala yang ada dan terjadi didunia disebabkan oleh kekuatan hukum alam / supranatural. Tahap ini penyederhanaan terhadap dewa yang mengatur gejala tersebut.

 2. Tahap positifis Manusia sanggup berpikir secara ilmiah, dan ditahap inilah berkembangnya ilmu pengetahuan.

Karya – Karya Auguste Comte:

Course of Positive Philosophy (Pelajaran Filsafat Positif)

- Course memuat dua tujuan, yaitu fondasi untuk sosiologi (yang ia sebut fisika sosial) dan koordinasi ilmu positif.

- 5 ilmu sains yang fundamental (Matematika, Astronomi, Fisika, Kimia, dan Biologi)

System of Positive Politics (Sistem Filsafat Positif)

- Agama humanitas

Auguste Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian

1. Social Statics. Mencari hukum-hukum tentang aksi dan reaksi dari berbagai bagian didalam suatu sistem sosial. Hukum-hukum tentang gejala sosial yang bersamaan waktu terjadinya. Empat doktrin social statics yaitu doktrin tentang individu, keluarga, masyarakat, dan negara.

 2. Social Dynamic. Teori tentang perkembangan dan kemajuan masyarakat, karena social dynamic merupakan study tentang sejarah yang akan menghilangkan filsafat yang spekulatif tentang sejarah itu sendiri.



 Dapat kita ketahuai bahwa Auguste comte merupakan bapak sosiologi sekaligus positivisme dan orang pertama yang mencentuskan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan modern yang mempelajari aspek sosial kehidupan manusia. Positivisme adalah cara pandang dunia jangan berdsarkan sains. Ada tiga tahap dalam positivisme : teologis.metafisik.positifisme. kemudian auguste comte membagi sosiologi kedalam Dua bagian: social static dan social dynamic.

Friday, October 2, 2020

Formad daring 3 : Sosiologi Agama

 Jum’at 25 september 2020 Pukul 19.00-selesai, kegiatan FORMAD (Forum Mahasiswa Fuad)  Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama yang masih dilaksanakan via online  karena keadaan yang masih mengharuskan mahasiswa melaksanakan  perkuliahan secara daring. Meakipun  secara daring tidak sedikitpun mengurangi antusias teman teman sosiologi agama untuk berdiskusi. Formad kali ini yang dipantik oleh kak Ayom Puspa Ariyani dengan membawa tema “Sosioligi Agama” dan ditemani Moderator Sufa Trisna Setiani.

Materi yang disampaikan oleh pemantik yang pertama yakni pengertian sosiologi agama menutut para ahli. yang pertama menurut Dillon Sosiologi agama dalam pandangannya, bahwa sosiologi agama    adalah upaya sosiolog dalam mendeskripsikan, memahami, serta menjelaskan bagaimana cara agama berlaku dalam masyarakat. Kedua pengertian menutrut Drs. D. Hendropuspito, O.C Sosiologi agama adalah cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis untuk mencapai keterangan ilmiah antara kepentingan masyarakat agama dan masyarakat luas pada umumnya.

  Kelahiran Sosiologi lazimnya dihubungkan dengan seorang ilmuwan prancis yang bernama august comte (1798-1857) yang dengan kreatif telah menyusun sintesis berbagai aliran macam pemikiran kemudian mengusulkan mendirikan ilmu tentang masyarakat dengan dasar filsafat empiris yang kuat.

Sedangkan minat mempelajari fenomena agama dalam masyarkat mulai tumbuh sekitar pertengahan abad ke-19 oleh sejumlah sarjana barat terkenal seperti Edward B.Taylor (1832-1917), Herbert Spencer (1820-1903), Frederick H.Muller (1823-1917). Tokoh-tokoh ini lebih tertarik kepada agama-agama primitive akan tetapi pengkajian masalah agama secara ilmiah dan terbina mulai sekitar tahun 1900. Mulai saat itu hingga menjelang munculnya buku-buku sosiologi agama yang sering disebut dengan nama sosiologi klasik.

Soaiologi agama memiliki peranan sebagai berikut : 

Memberikan pengetahuan terkait pola-pola interaksi sosial keagamaan yang ada dalam masyarakat

Untuk mengontrol serta mengendalikan tindakan serta perilaku keberagamaan dalam kehidupan masyarakat

Semakin memahami nilai-nilai, norma, tradisi, serta keyakinan yang dianut oleh mayarakat lain, juga memahami perbedaan yang ada. 

Menekan timbulnya konflik antar umat beragama.

Bersikap lebih kritis serta rasional menghadapi gejala-gejala sosial keberagaman masyarakat.

Uuntuk memperjelas materi dari pemantik, Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. 

Penulis : Sufa Trisna Setiani

Formad daring 2 : sejarah agama

 


Formad Daring : Sejarah Agama

Minggu,20 September 2020 pukul 08.00-selesai, di rumah masing-masing via WhatsApp Grub. Himpunan Mahasiswa Jurusan ( HMJ ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Sejarah Agama” yang di temai oleh Estu Farida Lestari jurusan Sosiologi Agama angkatan 2019-2020 dan ditemani moderator Ismi Mufa Idatus Zahroh jurusan Sosiologi Agama angakatan 2019-2020.

Sebelum Pemateri memaparkan materinya, lebih awal pemateri menyapa teman-teman dan pemateri hanya menyampaikan sedikit tentang sejarah agama, karna sejarah agama jika di bahas akan luas, jadi kita diskusi sangat singkat dan jelas dan bisa di pahami semua anggota formad.

Teori awal munculnya kegelisahan dalam memahami agama adalah pada kisaran tahaun 1870, dengan salah satu tokoh yang bernama Friederich Max Muller yang berprofesi sebagai seorang professor Jerman dan merupakan orang yang datang ke Inggris dalam rangka mengamati konflik keagamaan sekaligus menggerakkan konsep “Scient of Religion” yang nanti akan banyak kita bahas.   

kemampuan Muller dalam menyelesaikan pengamatan sekaligus memberikan jawaban mengenai pertanyaan tersebut, Muller menjawabnya dengan sebuah buku pengantar ilmu agama atau “Introduction To The Scient Of Religion” pada tahun 1879. Konsep pemikiran Muller adalah melogiskan pemikiran tentang agama dan sains yang dapat disatukan satu sama lain. Freidrich Max Muller memilih pendekatan naturalistik dalam memahami sesuatu yang mendukung keyakinan agama.  Lalu Muller merasa bahwa kunci untuk memahami agama adalah bahasa. Muller dan murid perbandingan filologinya juga menunjukkan bentuk-bentuk bahasa di India dan beberapa bagian Eropa berasal dari bahasa satu masyarakat purba yang disebut masyarakat arya.

Muller juga menyebutkan bahwa perubahan kata benda menjadi objek disebut dengan istilah nomina yang berubah menjadi numina, kesalahan dalam pengartian kata ini disebut “penyakit bahasa” oleh Muller. Tylor akhirnya juga sedikit terlatih dalam bidang bahasa, juga berpikir bahwa pendapat Muller ada benarnya.

Dan masih banyak pembahasan lainnya yang tentang sejarah agama, yang pastinya akan masih membutuhkan waktu lama untuk di diskusikan, jadi itu pembahasan diskusi tetang sejarah agama, dan audience diskusi sangat aktif banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai sejarah agama.


Penulis:  Ismi Mufa Idatus Zahroh


 


Saturday, September 12, 2020

Formad Daring : Sejarah Sosiologi

 Jum’at, 11 September 2020 pukul 10.00-11.30 di rumah masing-masing via WhatsApp Grub. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama mengadakan kegiatan diskusi daring mingguan yang bernama FORMAD (Forum Mahasiswa FUAD) dengan tema “Sejarah Sosiologi” yang dipantik oleh Wahyu Ilahi mahasiswa jurusan Sosiologi Agama angkatan 2019-2020  dan ditemani moderator Siti Mariyam mahasiwa jurusan Sosiologi Agama angkatan 2019-2020. 

Pemateri memaparkan bahwa mengenai Sejarah Sosiologi adalah ilmu yang absurd, sosilogi berasal dari bahasa latin yakni Sosios dan Logos, Sosios artinya teman atau masyarakat dan Logos artinya ilmu. Pada awalnya sosiologi dipengaruhi oleh kedisplinan ilmu seperti ilmu filsafat dan sosiologi merupakan anak induk dari filsafat. Pada akhirnya tokoh positivisme bernama Augues Comte (1798-1857) yang pertama kali mencentuskan ilmu sosiologi pertama dan saat ini yang dikenal oleh bapak sosiologi.

Menurut Augues Comte sosiologi adalah studi tentang masyarakat sebagai keseluruhan bersifat lebih primer dan konkrit dari pada individu. Sosiologi merupakan tentang keseluruhan dan tidak seperti diredaksi kedalam individu. Bahwa individu sangat dipengaruhi oleh budayanya, bukan entitas yang bersifat independen. 

Faktor kemunculan ilmu sosiologi, yaitu Revolusi Politik dan Revolusi Industri. Revolusi politik yakni revolusi di Prancis pada tahun 1789 yang sampai abad 19 terjadi ketidaktertiban organisasi dalam masyarakat. Revolusi industri yakni situasi buruh dalam indusri, perubahan masyarakat menjadi kapitalisme. 

Kebangkitan Sosialisme dan Kapitalisme, sosialisme adalah jawaban atau jalan keluar yang ditawarkan Karl Marx terhadap eksploitasi manusia terutama buruh, sebagaimana yang telah terjadi dalam masyarakat kapitalisme. Komunisme adalah tahapan tertinggi dari masyarakat tempat kelas dan pertentangan kelas (yang terjadi dalam masyarakat berkelas dimasa perbudakan, feodal juga kapitalis). Menghilang karena sudah tidak ada lagi monopoli atas alat-alat produksi dan sumber ekonomi.

Kemunculan sosiologi ditandai dengan: pertama, Revolusi politik yang fenomenal adalah revolusi yang terjadi di Prancis tahun 1789 dan perubahan politik yang terus berlanjur sampai abad ke-19 (pengantar sosiologi, 2016: Nurani). Kedua, dalam revolusi terjadi situasi chaos dan ketidak tertiban masyarakat. Ketiga, ilmuan terdorong untuk merefleksikan faktor sosioal apa yang mungkin bagi ketertiban sebuah masyarakat. Keempat, pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19 muncul filsuf dan ilmuwan khususnya dari Prancis mulai melakukan studi sistematis mengenai masyarakat (sosiologi ekonomi, 2016: Sindung). Kelima, melakukan pemikiran pada prinsip-prinsip ilmiah untuk menghasilkan pengetahuan yang objektif, mulai berfikir kritis dan keras untuk tidak sekedar melahirkan teori tentang bagaimana menciptakan masyarakat yang lebih baik. Dan keenam, ilmuan dari Jerman beranggapan industrialisasi membawa dampak buruk dan merusak sendi kehidupan masyarakat.

Pembahasan dari pemantik dan audience diskusi masih berlanjut mengenai perihal sejarah sosiologi yang man masih dianggap absurd tentuny masih banyak halikhwal sejarah sosiologi dan perkembangannya serta teori para ilmuwan.


Penulis: Siti Mariyam (mahasiswa Sosiologi Agama angkatan 2019-2020

Wednesday, April 29, 2020

Formad Daring: Mengenal Feminisme

Formad Daring: Mengenal Feminisme
Corona semakin naik daun. Pasalnya tidak hanya memberi pengarih dalam kesehatan dan keselamatan masyarakat, tetapi juga semua bidang. Hal ini termasuk lockdown di mana-mana terutama tempat umum, tidak terkecuali kampus.

Kampus sebagai salah satu nstansi yang berfungsing sebagai sarana belajar mengajar telah ditutup sementara. Hal ini bukan saja meresahkan dosen yang mengajar dan menuntaskan mata kukiahnya, tetapi juga mahasiswa yang sepenuhnya belum dapat menyelesaikan mata kuliahnya.

Bukan hanya itu, seluruh aktivitas yang berhubungan dengan kampus telah beralih menjadi daring. Hal ini dilakukan untuk menuntaskan seluruh kegiatan kampus saat pandemi ini. Selain itu, organisasi-organisasi kampus dilakukan dengan daring juga, seperti yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama (HMJ SA).

HMJ SA memiliki kegiatan rutin setiap minggunya, yaitu Forum Diskusi Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (Formad). Kegiatan yang biasanya dilakukan di forum outdoor ini, sekarang beralih di Whats App Group (WAG). Formad yang dulunya sempat tertunda, akan diteruskan di WAG dengan tema Feminisme pada Senin (30/3).

Formad kali ini dipantik oleh Dini Damayanti, mahasiswa semester empat Jurusan Sosiologi Agama. Ia mengawali diskusi dengan memaparkan perbedaan seks dan gender. Selanjutnya adalah pembahasan inti, yaitu pengertian feminisme, gelombang feminisme, dan problematika feminisme di masyarakat.

Pertama, pembahasan terkait seks dan gender. Seks bisa disebut dengan sesuatu yang kodrati, yang melekat pada diri manusia, yang tidak dapat diberikan kepada orang lain. Misalnya, vagina pada perempuan dan penis pada laki-laki. Sedangkan, gender adalah suatu sifat yang telah terkonstruk dalam masyarakat, dapat diberikan atau dilakukan orang lain. Misalnya, memasak adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh siapun, baik perempuan maupun laki-laki.
Pemantik juga memberikan contoh yang mungkin dianggap membingungkan bagi peserta diskusi. "Hamil dan menyusui itu seks atau gender?," pancing pemantik. Tentu saja jawaban teman-teman diskusi beragam, ada yang menyebutnya seks, ada pula gender.

Perihal hamil dan menyusui memang identik dengan perempuan. Dengan dalih kalau hanya perempuan yang memiliki payudara dan rahim. Tentu saja, kedua hal ini adalah kepunyaan perempuan dan itu disebut dengan seks.
Namun, hamil dan menyusui adalah kegiatan yang bukan hanya perempuan saja yang bisa. Kedua hal itu adalah pilihan. Yang mana perempuan memiliki hak untuk memilih "mau" menyusui dan hamil atau tidak. Kegiatan itu, mutlak pilihan, yang artinya itu adalah gender.

Setelah selesai pada perdebatan tersebut, dilanjutkan dengan pembahasan terkait opresi atau akar ketertindasan yang selama ini diperangi oleh para feminis. Dari dulu, sejak abad 18-an, feminis telah berjuang memerangi opresi dalam masyarakat. Mulai dari tuntutan untuk di ruang publik, seksualitas, ketertindasan di tempat kerja, dan lain sebagainya. 

Yang menjadi permasalahan adalah opresi ini masih diperangi oleh feminis baik di publik maupun domestik. Sebenarnya mereka ini merasa ditindas atau benar-benar tertindas? Inilah yang menjadi pertanyaan dalam diskusi kali ini.
Mengingat banyaknya kesempatan dan peluang yang diberikan kepada mereka, baik laki-laki dan perempuan, mengapa masih saja mengalami ketertindasan? Sebenarnya yang harus diperhatikan bukan hanya kesempatan dan peluang saja, namun kesesuaian diri terhadap kesempatan yang ada. Percuma saja ada peluang yang terbuka lebar, namun hal ini malah tidak seauai dengan passion. Lantas saja ini menjadi opresi juga bagi laki-laki dan perempuan. Bukan lagi hanya merasa tertindas belaka, namun benar-benar tertindas.

Semua pembahasan tentang feminisme memang tidak akan pernah ada endingnya. Tuntutannya hanyalah keadilan bagi segala gender. Karena memang mewujudkan keadilan adalah pekerjaan seumur hidup.
#panjangbumurkeadilangender
#panjangumurhal-halbaik
#respecttoeachother

Penulis: Miftakul Ulum Amaliyah (Mahasiswa Sosiologi Agama Semester 4)

Tuesday, April 28, 2020

Bedah Isu Kuliah Daring

Senin, 20 April 2020 pukul 19.30 samapai selesai FORMAD (forum mahasiswa fuad) Daring via Grub whatsapp di rumah masing-masing  Bedah Isu dengan tema Kuliah Daring dalam Perspektif Teori Konflik Marx dipandu oleh moderator Dini Damayanti dipantik oleh "Adi Yulianto" (Ketua HMJ SA atau Mahasiswa SA angkatan 2018) dan "Maz Dicky" (Mahasiswa SA angkatan 2017). 

Moderator membuka diskusi mengenai pandemi yg terjadi saat ini berdampak pada hampir segala sektor. salah satunya adalah pendidikan, yg harus dilakukan secara daring (online) termasuk perkuliahan. Dari "Mas Dicky", memaparkan bahwa kuliah daring memberikan kesan lebih seru dan santai. selain itu, mengefektikan waktu. kuliah degan sistem daring juga bisa dibilang menjadi tantangan bagi kita dalam  menjawab arus teknologi yang kian canggih, dan memaksa kita untuk akrab. 

sayangnya, kuliah daring tidak sepenuhnya mulus. ketika baik dosen maupun mhs terkendala jaringan internet dan spesifikasi smartphon atau laptop. selain itu, kuliah metode daring dapat memicu kejahatan intelektual, seperti copy paste tugas saat berlangsungnya diskusi dan presentasi. Konflik dalam perspektif Marx, menjelaskan adanya pemisahan kelas dalam masyarakat. menjadi kelas borjuis yaitu kelas berduit pemilik modal atau kepemilikan produksi dan kelas proletar yaitu kelas menengah ke bawah atau Buruh. 

hampir sama dengan mas Dicky, Adi memaparkan sisi positif dari kuliah daring yakni kita dapat me-manage waktu, selain itu dapat menghemat bensin atau tenaga untuk pergi ke kampus. sayangnya, jaringan internet masih menjadi satu kendala paling banyak terjadi saat kuliah daring. Adi mengkritisi pula kuliah daring yang memicu konflik, sebab terasa adanya pemerasan atau penyiksaan secara  perlahan juga mengkritisi terkait alur UKT di tengah kuliah daring. Mas Dicky melihat konflik di kuliah daring dalam bentuk penindasan atas tugas-tugas yg dirasa terlalu banyak.

Audience menanggapi pemantik bahwa ia setuju dengan pemaparan pemantik tentang dampak negatif berupa terkendala singal. Untuk menghubungkan itu dengan ide konflik Marx kita membalik lagi bahwa Marx berpandangan bahwa ekonomi adalah infra struktur. Dalam konteks saat ini "Hubungan ekonomi dan struktur kelas" dapat dilihat dari perkuliahan daring. Yaitu dengan penjelasan sederhana "pembelajaran daring dapat dilakukan bagi mereka yang punya akses internet". Kita tidak bisa memungkiri bahwa ada yang tidak bisa mengikuti kuliah online karena keterbatasan akses internet. Hal ini dapat dikarenakan mereka tidak punya uang.

Nah akses internet gratis tidak bisa didapatkan oleh semua orang bagi saya dan yang saya sebut bila tidak punya uang untuk sekedar cari wifi di warkop. Inilah yang nantinya dapat menimbulkan kelas-kelas sosial tertentu. Dalam kuliah daring akan berpotensi menciptakan pemetaan kelas yang diuntungkan adalah  mereka yang punya internet lancar oke (anggap saja itu kaum borjuis atau punya modal). Dengan mereka yg kesulitan akses internet (anggap saja itu kaum proletaratau tdk punya modal).

Audince memaparkan persoalan mengenai konflik kuliah daring, Dengan teori konflik dari Marx, apakah mahasiswa termasuk pihak yang tertindas? Apakah dosen tidak mengalami pula ketertindasan? Dan, yang mana sebenarnya yang menjadi pihak yang tidak diuntungkan di sini?
Pemantik menanggapi pertanyaan dari audience bahwa Marx menjelaskan adanya pemisahan kelas antara Borjuis dan ploretar, dalam kuliah daring anggapan dosen sebagai kaum Borjuis memberikan pekerjaan pada mahasiswanya tugas yang berlebihan karena, seperti di kampus kita kebanyakan dosen belum mengetahui struktur tata cara kuliah online yang efektif, dan mahasiswa sebagai kaum pekerja yang minim sekali dalam meresap materi yang di berikan dosen. Yang akan berdampak tertindasnya mahasiswa dan melakukan kejahatan intelektual oleh para mahasiswa Dalam instasi kampus ada yang mengendalikan berjalannya suatu pembelajaran di dalamnya, kita sebut saja orang rektorat. Dosen hanya menjalankan peraturan yang tertulis di kampus, ingat tertulis yaa. Sedangkan mahasiswa menerima asupan dari dosen. Sebenarnya antara dosen dan mahasiswa sama-sama saling membutuhkan. Dan saling tidak di untungkan, kenapa dari pihak rektorat tidak memberikan layanan internet gratis kepada dosen dan mahasiswa, seperti kampus-kampus islam lain, agar berjalannya kuliah daring tidak terlalu menjadi beban bagi dosen dan mahasiswa.

Jadi pihak yang tidak diuntungkan adalah mereka yang tidak bisa melakukan daring karena keterbatasan modal untuk masuk kelas online. Juga mereka yang mengalami penindasan berupa tugas-tugas. Dosen bisa saja menjadi golongan tersebut dari beban tugas birokrasi kampus. Tp yg berpotensi lebih tinggi adalah mahasiswa karena dosen yg memiliki modal pengetahuan, wewenang dalam memberikan tugas-tugas.